Postingan

Menampilkan postingan dengan label 'soko'

'Soko dan Rafe

'Soko dan Rafe Sebetulnya dua kata di atas bukan sesuatu yang luar biasa di kalangan Atoin' Meto'. Sebagai orang Atoni', saya dan komunitas kami di Amarasi Raya begitu mendengar kata ' soko  atau rafe, orang langsung paham dan dapat secara tepat menyebutkan barang yang dipakai sebagai 'soko  atau rafe. 'Soko . Tanda larangan dengan dedaunan tertentu. Dalam budaya Atoin' Meto',  melarang seseorang atau komunitas untuk tidak masuk, tidak mengambil barang sesuatu apapun di satu area/lahan, orang menggunakan tanda. Tanda itu disebut 'soko.  Begitu tanda itu ditempat pada satu tempat atau beberapa tempat, maka orang segera sadar akan larangan.  Jika larangan itu dilangkahi akan berdampak buruk pada pelanggarnya.  Contoh.  Seseorang menanam lamtoro sebagai pakan ternak sapi. Lamtoro yang ditanam itu tumbuh besar dan tinggi. Lalu, sebelum ia mengambil, ternyata sudah ada orang yang mengambil terlebih dahulu. Ia lalu memasang tanda laranga...

Hukum Adat di Kalangan Orang Amarasi Raya (seri-2)

'Soko-Noo' , Hukum Adat Menjaga Keseimbangan Alam (2) Heronimus Bani Pengantar Kemarin saya mengetengahkan hukum perkawinan yang mungkin masih akan terus berkembang bila didiskusikan. Istilah-istilah yang digukan dalam seremoni perkawinan menurut hukum adat a-la orang Amarasi Raya hampir selalu berubah, termasuk di dalamnya perubahan bila menggunakan pendekatan maso minta , meminang. Ada istilah Ripa'-Oko'  yang isinya sama dengan meminang. Sayangnya, seringkali maso minta   atau meminang itu masih dibarengi dengan mapua' . Hari ini saya mengetengahkan satu hukum adat yang juga dikenal orang Amarasi Raya dan Atoin' Meto' pada umumnya dengan istilah berbeda. Orang Amarasi Raya pun masih punya varian istilah untuk menjaga keseimbangan alam. Pengetahuan yang saya ketahui istilah itu disebut 'Soko-Noo'. Tanda-tanda di depan dan belakang masing-masing mewakili satu fonem. 'Soko-Noo'   untuk Keseimbangan Alam Hukum Adat yang ...