Postingan

Menampilkan postingan dengan label duka kami

Ikhlas Pada Kematian

Ikhlas pada Kematian Sore ini kami warga sedesa Nekmese' Amarasi Selatan berduka. Bukan saja warga sedesa ini, kerabat dekat yang menetap di kota Kupang pun berduka. Bahkan merekalah yang mengurus jenazah dari mendiang seorang saudari yang meninggal itu. Sang mendiang pergi untuk selama-lamanya. Ia meninggalkan seorang suami dan dua orang anak, buah cinta kasih. Kedua anak masih amat belia. Sulung telah menamatkan sekolah menengah atas, sedang bungsu masih duduk di bangku sekolah menengah atas. Di rumah itu ada seorang anak yang diadopsi. Sayang sekali, ia cacat, tetapi ia tidak membebani keluarga ini. Kabar-kabar melalui aplikasi WhatsApp kami baca. Di sana emoji berairmata penuh di layar dan dinding para penggunanya baik grup maupun jaringan pribadi. Kabar tentang jenazah yang masih berada di Rumah Sakit. Lalu beralih dari sana ke rumah kerabat terdekat di kota Kupang. Lalu, terakhir kabar tentang akan diberangkatkannya jenazah ke rumah duka, di kampung halaman, di ...

Duka Kuratapi dan Kusyukuri

Gambar
Duka kuratapi dan Kusyukuri Lima kali sudah tangis merebak Berulang lagi ratap menyeruak Kampungku Koro'oto berteriak Ketika aku di luar sana hati tergerak Batsyeba Bois - Rasi, rebah Marthen Ora - rebah Enggelina Bani-Ora - rebah Orgenis Bois - rebah Eliazer Ora - rebah Saat itu aku layaknya pemusik rebana Nun jauh di sana berdendang lagu bernada. Aku bersayap terbang jauh Aku bergumul dalam tugas nun jauh Aku debu lemah berdaging lelah Hingga tak dapat bangun saat rebah. Saat demikian, Aku tegar walau tak tegas Aku merasa kekar walau tak kekal. Aku dihibur rekan dalam sapaan manis Aku dikuatkan sahabat dalam topangan necis Lalu aku dapat tersenyum yang mungkin saja manis, walau sesungguhnya ronaku tak necis. Selamat jalan kakak Eliazer Ora. Adik tak dapat meraba jasadmu. Tapi... Adik dapat merasakan jasamu. Terima kasih Tuhan. Duka kuratapi dan kusyukuri. Chiang Mai, 31 Juli 2019

Tak Terduga Sebelumnya

Tak Terduga Sebelumnya (seri ke-2, Adakah anak menangis untuk Ayahnya?) Kata orang, "sudah suratan takdir!".  Yang lain mengatakan, "Sudah waktunya!" Lalu kaum berTuhan berseru nyaring, "Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil. Terpujilah Nama-Nya!" Saya sungguh tak menduga, bahwa kakak Eliaser Ora akan meninggal di saat saya tidak berada di tempat. Sepanjang malam (Senin, 29/07/2019) hingga pagi (Selasa, 30/07/2019) saya sama sekali tidak dapat menutup mata yang mestinya harus tidur untuk mendapatkan kesegaran tubuh. Lalu, saya menulis artikel pertama, Adakah Anak Menangis Untuk Ayahnya? Ketika hari belajar (workshop) berlangsung, sampai istirahat untuk menikmati minum pagi, saya merasa ada yang kurang pada sayaa setelah minum kopi. Tubuh ini terasa tak hendak bersahabat. Saya terus memaksakannya. Sesudah makan siang, terus mengikuti materi workshop sampai rehat kedua. Pada saat rehat kedua, saya benar-benar tidak ingin minum bahka...