Postingan

Menampilkan postingan dengan label Pah Amarasi

Oko'mama sebagai Ibu

Gambar
Oko'mama' sebagai Ibu Pengantar Seorang mahasiswa jauh-jauh dari Salatiga bertandang ke Umi Nii Baki Koro'oto di desa Nekmese'. Ia telah menyampaikan sebelumnya bahwa akan berkunjung dengan niat berdiskusi. Topik diskusi tentang kebudayaan, lebih fokus pada oko'mama' ~ tempat sirih pinang. Sang mahasiswa diantar oleh seorang guru yang bertugas di salah satu unit sekolah di desa Nekmese Amarasi Selatan. Pertemuan diawali basa-basi penghangat suasana, dibarengi sikap dan tindakan yang khas, meletakkan satu unit oko'mama' di atas meja. Isinya terdiri dari pinang, sirih dan kapur. Sang mahasiswi pun bergegas mengambil pinang yang dibawanya. Ia meletakkannya di meja. Saya mengambil sebuah, membuka kulitnya, isinya dikunyah bersama campuran sirih dan kapur. Hasilnya berupa liur yang memerah. Liur itu dibuang, namun aroma khas keluar dari mulut. Biasanya terlihat wajah akan memerah darah. Sangat sering para pemangku adat melantunkan syair untuk menikmati campur...

Mungkinkah Kosu' telah Go International?

Gambar
   Mungkinkah Kosu' telah  Go International ? Pengantar Dalam tahun-tahun belakangan ini budaya  kosu'  yang khas masyarakat adat Pah Amarasi telah menjadi budaya publik. Saya pikir dan berasumsi demikian karena rasanya dimana orang Amarasi berdiaspora, di sana bila mereka akan mengadakan hajatan sukacita, pasti akan ada tarian massal  kosu'  . Saya sebagai anggota masyarakat Pah Amarasi yang tinggal di wilayah Amarasi Selatan turut menyaksikan bahwa hampir semua hajatan sukacita khususnya pada resepsi pernikahan, akan selalu menjadi indah dan berkesan bila ada tarian massal  kosu'.  Keluarga batih dan keluarga besar hingga undangan baru merasakan indahnya pesta/resepsi pernikahan setelah  kosu'  dilangsungkan. Mereka akan pulang ke rumah masing-masing dengan kesan pertama  kosu'  dan sesudah itu akan diikuti dengan kenangan pada pasangan nikah itu dengan sejumlah acara dan ritual keagamaan yang dilewati. Mereka pun ak...

Hukum Adat di Kalangan Orang Amarasi Raya (tulisan berseri)

Hukum Adat a-la Atoin’ Meto’ Amarasi Raya (1) Heronimus Bani Pengantar Hari Minggu, (8/9/19), seorang mahasiswa sekolah tinggi hokum mendatangi saya untuk berdiskusi setelah semalam sebelumnya ia mengirim pesan melalui aplikasi WhatsApp. Kami berdiskusi tidak seberapa lama berhubung kami mengalami kebingungan tentang materi yang ia bawa sebagai tugas dari dosen yang menugaskan. Menariknya diskusi yang tidak berapa lama ini jatuh pada permintaan sang dosen untuk mencatat dan mengurai sepuluh hokum adat yang berlaku di tengah-tengah kehidupan bersama. Saya agak merasa geli saja, berhubung terminology sepuluh hokum seperti Dasa Titah dalam Taurat/Torah. Kami berdiskusi. Hasil diskusi yang tidak seberapa itu saya minta untuk ditulis. Sementara saya sendiri mesti menulis yang sudah saya sampaikan dengan ulasan yang kiranya menjadi materi belajar pada diri sendiri dan komunitas pembaca yang mau membaca artikel ini. Pertanyaan muncul ketika harus menulis bagian ini adalah:...