Postingan

Menampilkan postingan dengan label masyarakat adat

Hujan Dalam Rangka Apa??

Gambar
Terlihat rerumputan mulai menghijau setelah hujan berlangsung beberapa hari Foto: dokpri; RoniBani    Pengantar  Masyarakat adat Pah Amarasi yang berprofesi sebagai petani (ladang) dan beternak (sapi dan babi), selalu diperhadapkan dengan situasi dan kondisi alamnya. Alam Pah Amarasi yang rerata berada 500-600 meter di atas permukaan laut menyajikan pemandangan yang indah pada musim hujan, karena pada saat itu hutan menghijau dimana-mana. Kesejukan pada pandangan mata antara bulan Mei - September disebabkan hutan masih memperlihatkan keindahannya dengan hijauan. Peternak (sapi dan babi) sangat bersyukur antara bulan Desember tahun sebelumnya sampai bulan Agustus hingga pertengahan September tahun sesudahnya. Bila musim tanam berlangsung pada bulan Desember tahun sebelumnya hingga Januari tahun sesudahnya, maka musim panen (menuai) berlangsung antara April - Mei. Sesudah panen, ternak-ternak sapi dan babi akan menjadi perhatian utama walau mungkin jumlahnya hanya berkisar ...

Natu' Pilu', metode pewarisan budaya pada masyarakat Pah Binoni Amfo'an

Gambar
 Natu' Pilu', metode pewarisan budaya pada masyarakat Pah Binoni Amfo'an Pengantar Saya baru saja menghadiri suatu acara maso minta (peminangan) di Lelogama ibukota Kecamatan Amfoang Selatan Kabupaten Kupang. Acara ini berlangsung pada hari Jumat (7/10/22) sekira pukul 16.00 WITa. Acara ini dihadiri oleh banyak pemuka masyarakat baik dalam kapasitas sebagai anggota keluarga maupun pejabat desa/kelurahan. Acara serupa sangat sering saya hadiri di kota Kupang, yakni maso minta. Maso minta sudah menjadi budaya yang khas masyarakat adat di perkotaan Nusa Tenggara Timur. Hal ini merembes sampai ke pedesaan di dalam Pulau Timor dan sekitarnya. Beberapa tulisan saya tentang maso minta dapat dilihat pada blog ini. Secara umum ketika rombongan keluarga pihak laki-laki datang, mereka akan tiba dengan barang bawaan yang terasa sudah diterima secara umum yakni 5 dulang (baki, a'tupa'). Kelima dulang itu sudah "terstandarkan" yakni: Dulang pertama berisi, lilin dan kit...

Duduk Makan Bersama Dalam Masyarakat Adat

Gambar
  Duduk Makan Bersama Dalam Masyarakat Adat   Pengantar   Ziarah kehidupan manusia yang semula nomaden kemudian beralih menjadi menetap ketika terjadi revolusi hijau, menyebabkan manusia memiliki pola pikir yang mengevolusi gaya hidup seperti berpakaian dan mengkonsumsi sesuatu secara bersama dan tetap. Pada saat manusia mulai mengenal pola bercocok tanam, tanaman-tanaman palawija dan tanaman pangan dikembangkan secara besar-besaran. Beternak secara tetap sehingga mendapatkan profesi sebagai peternak dan gembala merupakan sikap dan tindakan yang bersamaan dengan revolusi hijau. Menangkap ikan yang semula dilakukan di sungai atau danau beralih ke laut, yang menelorkan ketrampilan hingga keahlian menjadi nelayan, pembuat perahu, kapal dan berjenis alat perangkap dan penangkap ikan. Semua itu dilakukan atas dasar olah pikir yang berkembang untuk   menyikapi perubahan di sekitar kehidupan mereka.   Bagaimana pola dan gaya hidup yang berhubungan dengan maka...