Postingan

Populer

Kurut-Kaet, Nopu-Hau, Sisa'en too Mfaun

Gambar
  Kematian datang, tangis merebak, tetangga merapat, para tokoh berdiskusi. Keluarga dekat dan jauh menangisi jenazah, para tokoh menata pelayanan hingga upacara penguburan. Itulah suasana dan nuansa ketika kematian menerpa. Ada tangisan, namun ada kerja bersama, solidaritas tetap terjaga, kerekatan komunitas tiada terhapuskan. Maka, ketika kematian menerpa, suasananya menjadi tanggung jawab bersama. ilustrasi suasana ketika ada kedukaan pada kalangan masyarakat Atoin Meto' Gambar ilustrasi oleh ChatGPT A. Etimologi Kurut-kaet berarti ratap dan tangis. Istilah ini digunakan dalam suasana kematian atau kedukaan, ketika keluarga batih, keluarga dekat, dan keluarga jauh menangisi orang yang telah meninggal. Dalam suasana itu, tangisan bukan hanya ungkapan kesedihan pribadi, melainkan juga menjadi suara yang terdengar di luar rumah duka dan diketahui oleh lingkungan sekitarnya. Dalam konteks ini dikenal pula ungkapan nsiun ma nain, yakni tangisan yang disertai cerita atau ungkapan...

Na'oi: Keturunan yang diberi tinggal

Gambar
  Na'oi: Keturunan yang Diberi Tinggal   Gambar ilustrasi oleh ChatGPT Tentang nama, darah, dan rumah tempat seorang anak diakui Dalam kebudayaan Pah Amarasi, perkawinan bukan sekadar pertemuan seorang laki-laki dan seorang perempuan. Ia adalah pertemuan dua keluarga, dua nono , dua sejarah, dan dua garis keturunan yang kemudian harus ditempatkan dalam tata kehidupan komunitas. Karena itu, ketika seorang anak lahir, pertanyaan adat tidak berhenti pada: Siapa ayah dan ibunya? Ada pertanyaan lain yang jauh lebih dalam: anak ini akan berdiri di dalam nono siapa? Di sinilah kita bertemu dengan satu istilah yang menarik: na'oi . Dalam Melayu Kupang, na'oi dapat dipahami sebagai “kasi tenga”, memberi kesempatan untuk tinggal. Dalam bahasa Indonesia, kurang lebih berarti mengizinkan untuk berada, tinggal. Tetapi dalam hukum adat, na'oi bukan sekadar membiarkan seseorang tinggal di sebuah rumah. Ia menyentuh sesuatu yang lebih mendasar: memberi ruang bagi seoran...

Haot-Fatis, Oe Maputu' ~ Ai Marara': Ketika Anak Kembali kepada Asal

Gambar
  Sepasang calon suami-isteri mengantar haot-fatis; oe maputu' ~ ai marara' foto: Roni Ada saat dalam hidup ketika seorang anak berhenti menghitung apa yang telah diberikan oleh orang tuanya. Sebab semakin ia menghitung, semakin ia menyadari bahwa tidak ada angka yang cukup untuk membayar sebuah kehidupan. Ibu telah memberikan tubuhnya. Ayah telah memberikan tenaga dan perlindungannya. Keduanya menggendong hari-hari yang berat agar seorang anak dapat berjalan pada hari-hari yang lebih ringan. Mereka menanam sebelum anak mengenal arti tumbuh. Mereka bekerja sebelum anak mengenal arti lelah. Mereka menahan lapar sebelum anak mengenal arti kenyang. Karena itu, dalam kehidupan masyarakat adat Pah Amarasi, ada sebuah kebiasaan yang menyimpan makna mendalam: haot-fatis, oe maputu’-ai marara’. Ia bukan sekadar pemberian seorang anak kepada ibu dan ayah. Ia adalah satu bahasa budaya. Bahasa yang tidak selalu diucapkan dengan banyak kata, tetapi dapat berbicara melalui apa yang diletakk...

Fetof ~ Naof: Perempuan di Depan Kata, Laki-Laki dalam Struktur

Gambar
  A. Etimologi Fetof berarti saudara perempuan, sedangkan naof berarti saudara laki-laki. Keduanya merupakan istilah kekerabatan dalam bahasa Amarasi. Dalam percakapan sehari-hari, terdapat sejumlah pasangan istilah yang memperlihatkan pola menarik: dalam beberapa pasangan yang menunjuk perempuan dan laki-laki, istilah untuk perempuan disebut lebih dahulu. Beberapa contoh yang dapat diamati antara lain: aina'-ama' ~   ibu dan bapak; aan feto - aan mone ~ anak perempuan dan anak laki-laki; bae feto - bae mone ~   ipar perempuan dan ipar laki-laki; be'i - na'i ~ nenek dan kakek; bifee - atoni' ~   perempuan dan laki-laki; fee - mone ~ istri dan suami; bifee mnasi' - atoni mnasi' ~ perempuan tua dan laki-laki tua; aan nanef - moen feuf ~ menantu perempuan dan menantu laki-laki; baab feto - baab mone ~ bibi dan paman, tante dan om. Dari contoh tersebut, kita dapat mencatat satu fakta kebahasaan: terdapat s...