Postingan

Populer

Haot-Fatis, Oe Maputu' ~ Ai Marara': Ketika Anak Kembali kepada Asal

Gambar
  Sepasang calon suami-isteri mengantar haot-fatis; oe maputu' ~ ai marara' foto: Roni Ada saat dalam hidup ketika seorang anak berhenti menghitung apa yang telah diberikan oleh orang tuanya. Sebab semakin ia menghitung, semakin ia menyadari bahwa tidak ada angka yang cukup untuk membayar sebuah kehidupan. Ibu telah memberikan tubuhnya. Ayah telah memberikan tenaga dan perlindungannya. Keduanya menggendong hari-hari yang berat agar seorang anak dapat berjalan pada hari-hari yang lebih ringan. Mereka menanam sebelum anak mengenal arti tumbuh. Mereka bekerja sebelum anak mengenal arti lelah. Mereka menahan lapar sebelum anak mengenal arti kenyang. Karena itu, dalam kehidupan masyarakat adat Pah Amarasi, ada sebuah kebiasaan yang menyimpan makna mendalam: haot-fatis, oe maputu’-ai marara’. Ia bukan sekadar pemberian seorang anak kepada ibu dan ayah. Ia adalah satu bahasa budaya. Bahasa yang tidak selalu diucapkan dengan banyak kata, tetapi dapat berbicara melalui apa yang diletakk...

Fetof ~ Naof: Perempuan di Depan Kata, Laki-Laki dalam Struktur

Gambar
  A. Etimologi Fetof berarti saudara perempuan, sedangkan naof berarti saudara laki-laki. Keduanya merupakan istilah kekerabatan dalam bahasa Amarasi. Dalam percakapan sehari-hari, terdapat sejumlah pasangan istilah yang memperlihatkan pola menarik: dalam beberapa pasangan yang menunjuk perempuan dan laki-laki, istilah untuk perempuan disebut lebih dahulu. Beberapa contoh yang dapat diamati antara lain: aina'-ama' ~   ibu dan bapak; aan feto - aan mone ~ anak perempuan dan anak laki-laki; bae feto - bae mone ~   ipar perempuan dan ipar laki-laki; be'i - na'i ~ nenek dan kakek; bifee - atoni' ~   perempuan dan laki-laki; fee - mone ~ istri dan suami; bifee mnasi' - atoni mnasi' ~ perempuan tua dan laki-laki tua; aan nanef - moen feuf ~ menantu perempuan dan menantu laki-laki; baab feto - baab mone ~ bibi dan paman, tante dan om. Dari contoh tersebut, kita dapat mencatat satu fakta kebahasaan: terdapat s...

Sea'nono dan Saebnono dalam Budaya Masyarakat Adat Timor (Pah Amarasi)

Gambar
Pengantin adat; foto: Roni   Pengantar Sea'nono dan Saebnono, dua istilah yang dikenal umum oleh masyarakat adat Pah Amarasi. Istilah lain di yang sama maksud dan tindakan yakni kaso nono atau kaos nono. Semua istilah ini merupakan ritual yang khas dalam masyarakat adat Timor, pada umumnya, dan mungkin juga sebahagian di Nusantara yang menganut garis keturunan ayah (patrilineal).  Pengertian Sae'nono, Saebnono Sea'nono sebagai suatu ritual yang diyakini bahwa nama yang melekat secara sakral akan luruh ketika mendapat sentuhan dan lafal tertentu dalam suatu upacara. Keyakinan bahwa nama sakral itu tidak tertulis tetapi tersematkan secara metafisis di dalam diri seorang perempuan (dan anak-anak yang lahir di luar pernikahan sah). Nama sakral itu disebut nono dan akuf/akun. Nono atau akuf/akun yang diluruhkan itu disebut nono mnasi'. Nono dan akuf/akun  milik kalangan keluarga di mana seorang perempuan muda akhirnya harus meninggalkan mereka untuk bersatu dengan suaminy...

Kau dan Aku, Kami dan Kita dalam Sahabat

Gambar
  Foto: Evina Sugiyanti Halo sahabatku Kurasakan dan kunikmati persahabatan kutelusuri dan kutelisik emosi ikatan cinta Kau dan aku, kita bersama dalam ruang dan waktu Kau dan kami, kita bergandengan dalam langkah kerja Halo sahabatku Siapa menduga hari terakhirmu tiba? Kau memang sedang didera penyakit Kau sudah berjuang melawan penyakit itu Kau tiada sendirian dalam arus itu Kaum keluargamu, kami pun ada di sana dalam doa dan dukungan materil  Siapa yang dapat menahan kuasa Ilahi? Tuhan Sang Khalik memiliki segalanya Ia memberi keluasan pada kita untuk hidup Ia menyediakan ruang dan peluang berkarya Ia bersama kita sepanjang karsa dikaryakan Kini... Sang Khalik memilih dirimu untuk bersama-Nya Aku di sini menangis bersama kaummu, sahabat Kami mengantarkan jasadmu ke liang lahat Kami mengingat jasamu di dinding berpahat Umi Nii Baki-Koro'oto, 11 Maret 2025 Heronimus Bani

Naa' dan Naaf dua kata Bahasa Amarasi beda Makna

Gambar
  Sumber: https://www.liputan6.com/ Dalam satu kesempatan berbicara di muka umum (walaupun jumlahnya tidak lebih dari 50 orang); saya mengucapkan satu kata dalam Bahasa Indonesia. Kata itu yakni: darah.  Selanjutnya saya sampaikan bahwa dalam Bahasa Meto'-Amarasi ada dua versi kata untuk satu terjemahan untuk kata darah.  Dua versi kata itu yakni naa' dan naaf ( / aa / disebut vokal rangkap, diucapkan lebih lama/panjang). Mereka yang mendengar dua istilah yang saya gunakan dengan tambahan himbauan, terlihat menggangguk-angguk. Mereka yang mengangguk terlihat berumur rerata di atas 60 tahun. Himbauan saya sederhana, dalam bahasa Amarasi Mi'uab amko-koetan natuin naa' re' nat'oop. Amko-koetan amsa' natuin sufaf na'ko atupas naan , ( terjemahannya, bicarakan secara hati-hati dalam hikmat berhubung telah terjadi pertumpahan darah. Bicaralah secara berhati-hati dalam hikmat pula karena ada keturunan dari (dia) yang sudah meninggal itu). Naa' ~ Darah Jika...

Kupas Makna Kata Boet, Fanut, Safet

Pengantar Ketika sakit, saya melakukan paling tidak tiga hal yang orang tidak pikirkan yakni: mencuci tangan, mencuci kaki, dan bila ke "belakang pasti melakukan apa yang lazim sesudah b a b. Mencuci tangan dan kaki saya lakukan berhubung saya tidak boleh mandi dulu, sementara yang satu mesti dilakukan walau airnya dingin karena terendam terlebih dahulu di dalam bak kamar mandi. Boet , fanut dan safet , tiga kata sederhana yang dipunyai masyarakat pemilik dan pengguna Bahasa Amarasi-Kotos. Ketiganya bila diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, sama artinya yakni: cuci, mencuci. Boet sebagai kata kerja terlihat peranannya bila disematkan pada objek boet. Bila telah disematkan sebagai bagian frasa dan kalimat, huruf /t/ akan luluh. Kata ini dipergunakan untuk perlakuan pada waktu : boe 'bu'uf (mencuci sesudah b a b yang disebut cebok ) boe utan, boe sisi ( mencuci sayuran dan daging irisan sebelum dimasak) boe pena', boe hau fua' (mencuci makanan/buah-buahan sebelu...

Eek Mepu-Ranan atau Eek Meup Ranan?

Gambar
Eek Mepu-Ranan atau Eek Meup Ranan ? Moment pasangan nikah adat dalam satu acara pengesahan perkawinan menurut hukum adat masyarakat adat Pah Amarasi. Foto: Roni Bani Judul tulisan ini dalam Bahasa Amarasi (Kotos-Roi'is). Bila diterjemahkan secara harfiah, artinya, tutup kerja (dan) jalan, atau tutup kerja jalan? Frasa pada judul ini selalu ada dalam urusan perkawinan menurut hukum adat perkawinan yang berlaku di dalam masyarakat adat Pah Amarasi. Banyak ayat (aaz:  era', skini' ) yang tidak tertulis dapat ditambah-tambahkan atau dikurang-kurangkan sesuai kebutuhan dan atau mungkin keinginan dan selera. Selama penambahan atau pengurangan itu logis diterima semua yang hadir pada saat pelaksanaan. Eek mepu-ranan satu frasa yang menarik. Setiap pasangan nikah adat yang akan keluar antar wilayah dusun dan atau  wilayah desa pada akhirnya akan tutup kerja (dan) jalan. Maknanya, gadis yang selama ini berada dalam wilayah dusun dan atau desa, akan pergi meninggalkan wilayah terse...