Postingan

Populer

"Cinta" Pemuda GMIT (Klasis Amarasi Timur) dalam Balutan Budaya Atoin Meto'

“Cinta” Pemuda GMIT (Klasis Amarasi Timur) dalam Balutan Budaya  Atoin’ Meto’ [1]   Pengantar Pada tempat prioritas saya mesti bersyukur dan berterima kasih bertadah tangan pada Yesus Kristus Tuhan, Pemilik dan Kepala Gereja. Dia telah menyodorkan pada saya dan kita semua yang hadir dalam kegiatan yang dihelat oleh para muda Klasis Amarasi Timur ini. (Apakah para muda perlu rasa terima kasih dari saya? Akh… nanti dengarkan (baca) saja, setelah ini. ha ha …). Saya mau sampaikan pada pengantar ini bahwa, sesungguhnya para muda Klasis Amarasi Timur melalui Panitia Perkemahan ini, telah menyampaikan satu tema teramat besar, luas dan dalam untuk dibahas hanya dalam tempo sesingkat ini. Tema yang dimaksudkan itu adalah, Gereja dan Budaya. Kita bisa saja berbicara dan mendiskusikannya, saling berbagi di dalamnya, namun kita tidak akan pernah habis-habisnya. Itulah sebabnya, saya mencoba menyempitkan agar kita tidak terjebak dalam diskusi yang menjadikan kita orang-orang ya...

Kurut-Kaet, Nopu-Hau, Sisa'en too Mfaun

Gambar
  Kematian datang, tangis merebak, tetangga merapat, para tokoh berdiskusi. Keluarga dekat dan jauh menangisi jenazah, para tokoh menata pelayanan hingga upacara penguburan. Itulah suasana dan nuansa ketika kematian menerpa. Ada tangisan, namun ada kerja bersama, solidaritas tetap terjaga, kerekatan komunitas tiada terhapuskan. Maka, ketika kematian menerpa, suasananya menjadi tanggung jawab bersama. ilustrasi suasana ketika ada kedukaan pada kalangan masyarakat Atoin Meto' Gambar ilustrasi oleh ChatGPT A. Etimologi Kurut-kaet berarti ratap dan tangis. Istilah ini digunakan dalam suasana kematian atau kedukaan, ketika keluarga batih, keluarga dekat, dan keluarga jauh menangisi orang yang telah meninggal. Dalam suasana itu, tangisan bukan hanya ungkapan kesedihan pribadi, melainkan juga menjadi suara yang terdengar di luar rumah duka dan diketahui oleh lingkungan sekitarnya. Dalam konteks ini dikenal pula ungkapan nsiun ma nain, yakni tangisan yang disertai cerita atau ungkapan...

Na'oi: Keturunan yang diberi tinggal

Gambar
  Na'oi: Keturunan yang Diberi Tinggal   Gambar ilustrasi oleh ChatGPT Tentang nama, darah, dan rumah tempat seorang anak diakui Dalam kebudayaan Pah Amarasi, perkawinan bukan sekadar pertemuan seorang laki-laki dan seorang perempuan. Ia adalah pertemuan dua keluarga, dua nono , dua sejarah, dan dua garis keturunan yang kemudian harus ditempatkan dalam tata kehidupan komunitas. Karena itu, ketika seorang anak lahir, pertanyaan adat tidak berhenti pada: Siapa ayah dan ibunya? Ada pertanyaan lain yang jauh lebih dalam: anak ini akan berdiri di dalam nono siapa? Di sinilah kita bertemu dengan satu istilah yang menarik: na'oi . Dalam Melayu Kupang, na'oi dapat dipahami sebagai “kasi tenga”, memberi kesempatan untuk tinggal. Dalam bahasa Indonesia, kurang lebih berarti mengizinkan untuk berada, tinggal. Tetapi dalam hukum adat, na'oi bukan sekadar membiarkan seseorang tinggal di sebuah rumah. Ia menyentuh sesuatu yang lebih mendasar: memberi ruang bagi seoran...