Postingan

Menampilkan postingan dengan label puisi

Kau dan Aku, Kami dan Kita dalam Sahabat

Gambar
  Foto: Evina Sugiyanti Halo sahabatku Kurasakan dan kunikmati persahabatan kutelusuri dan kutelisik emosi ikatan cinta Kau dan aku, kita bersama dalam ruang dan waktu Kau dan kami, kita bergandengan dalam langkah kerja Halo sahabatku Siapa menduga hari terakhirmu tiba? Kau memang sedang didera penyakit Kau sudah berjuang melawan penyakit itu Kau tiada sendirian dalam arus itu Kaum keluargamu, kami pun ada di sana dalam doa dan dukungan materil  Siapa yang dapat menahan kuasa Ilahi? Tuhan Sang Khalik memiliki segalanya Ia memberi keluasan pada kita untuk hidup Ia menyediakan ruang dan peluang berkarya Ia bersama kita sepanjang karsa dikaryakan Kini... Sang Khalik memilih dirimu untuk bersama-Nya Aku di sini menangis bersama kaummu, sahabat Kami mengantarkan jasadmu ke liang lahat Kami mengingat jasamu di dinding berpahat Umi Nii Baki-Koro'oto, 11 Maret 2025 Heronimus Bani

Merenda Jejak Kecil

Gambar
 Merenda Jejak Kecil Foto: @Nelci Therik Malam tiba ketika seremoni maso minta berakhir. Para kerabat dan sahabat bergembira. Mereka bersama pasangan kekasih yang baru saja mendapatkan pengesahan perkawinan menurut hukum adat perkawinan. Pasangan kekasih ini telah sah sebagai suami-isteri. Sahnya perkawinan ini dimeriahkan dengan lagu dan tari yang khas. Para muda dengan kekhasannya, demikian kaum tua tak ketinggalan. Zaman terus menggulirkan pendekatan yang dibawa masuk dalam pentas-pentas kehidupan. Setibanya di rumah saya merefleksikan suasana malam maso minta i tu dengan bait pusi ini. Menari-nari jemari tanganku Merona merah penonton pentas Manakala tatapan mata berbinar-binar Diselipi bidik di lesung pipi Sesaat berdesir darah Badan berasa dipeluk kehangatan Hendak mencari ruang merdeka Pentas masih membeber musik Jemari tangan terus menari Koro'oto, 14 Mei 2022 Seharian pada 14 Mei 2022, kesibukan para kerabat demi suksesnya perhelatan akbar keluarga-keluarga yang mendukung ...

puisi, Sehelai Daun itupun Gugur

Sehelai Daun itupun Gugur Pagi-pagi ini, Sepi… Akh … Tidak! Suara kokok ayam menghalau gelap gelagapan. Kicau burung di pepohonan mengusir remang hingga terang. Angin belum bersedia keluar dari sarangnya. Rupanya ia masih pulas dalam mimpinya. Agar ketika muncul, ia berkisah di telinga kaum, Bahwa ada keheningan sepagi ini, Dan kekeringan di siang nanti. Hingga debu membalut kaki menendang. Ketika pandang kuangkat, Sehelai daun gugur, Melayang ia terbang turun Tanpa daya penahan raganya Ia terus turun perlahan, dan perlahan lagi. Hingga tiba di permukaan datar. Ia tersenyum ringan padaku. Aku trenyuh dibuatnya begitu. Daun itu… Berkisah ia tentang hidupnya yang sebentar saja. Dari bertunas, menjadi dapur pada pohonnya Menutrisi diri hingga akhirnya tak kuasa pada sang surya. Menguning, Memerah, Terbang turun, jatuh. Kering dan ringan dipermainkan angin Hancur lebur dilumat debu dan bakteri. Daun itu… Telah gugu...

D u k a

Pada satu pagi, 23 Agustus 2019, melalui media sosial WhatsApp Grup, seorang teman menyampaikan bahwa ada kematian anggota keluarganya. Ia berharap mungkin ada teman dalam grup yang sudi turut melayat atau hadir dalam upacara penguburan. Saya tidak dapat melayat atau menghadiri upacara  penguburan. Lantas saya menulis di grup WA puisi yang saya beri judul, DUKA. D U K A Bila kau datang Kami tak dapat menghalau Bila kau tiba Kami tak dapat mengusir Bila kau masuk Kami dengan amat terpaksa menerima. Duka Kau penyebab tangis Kau pemantik ratap Kau penyulut pilu Kau pentolan sedih Kau jebolan susah Duka Maafkan kami yang tak sanggup menerima dirimu. Menjauhlah dari kami yang lemah tak berdaya Menyingkirlah ke tempat lain agar kami dapat keteduhan Walau demikian Kami tetap punya asa Kami terus berkanjang harap Kami bergantung pada sang Sumber Hikmat Kami mohonkan hibur Kami sandarkan raga lelah. Kiranya kami mendapatkan kekuatan. Ki...

Tangisku Senyumku

Tangisku Senyumku Tangisku... Gelap tak gemerlap kuselimuti. Di sana raung gelisah getar meremukkan. Di sana lolong pilu mendekor malam.  Di malam tangisku itu... Aku menekur dada dan tak lupa melipat tangan. Aku mendengus aroma yang sematkan angin peniup pinta. Aku mendengkur binal sambil melukis tadahan tangan. Di sana, di selimut malam kutumpangkan rasa rindu. di pembungkus raga beku kuseberangkan niat rancu. hingga menjelang fajar  di awal mekar waktu  Aku mencoba meneguhkan hati. Senyumku... Mentari pagi menyapa ramah Di situ riang merpati bergoyang ekor Di situ kokok sang jantan menekuk betina. Seremoni simpel menyambut pagi. Aku... Di pagi ini. Duduk di sana memandang lapang kosong Tanpa makna pinangan mentari pagi padaku. Koro'oto, 30 Agustus 2019 By : Heronimus Bani

Keliru atau Bodoh

Keliru atau Bodoh Ketika langkah dalam gerak maju sang kaki saat itu tantangannya terantuk nan terpeleset, Jatuh... mungkin dapat bangun lagi, mungkin perlu ditolong. Ketika ayunan dalam gerak sang tangan saat itu tantangannya keseleo dan salah pencet Keram... Kaku... mungkin masih dapat digerakkan, mungkin mulut teriak melolong. Adakah kaki melangkah tak diketahui otak? Adakah tangan mengayun tanpa sepengetahuan otak? Manalah kaki yang sudi terantuk nan terpeleset? Manalah tangan yang rela keseleo pun salah pencet? Akh... Keliru... Dapat saja menjadi pembenaran. Kau mengalaskan dalil keteguhan. dan menjadikannya fondasi kekokohan. Bodoh... Dapat saja menjadi pembelaan. Kau mendasarkannya di atas kecemasan. dan menegaskannya di dalam kegundahan. Lalu... Aku menghadapi bauran rasa sembari menghangatkan benak berdalil kepongahan. Aku menatap liang duka berpenasaran sembari berdiang di sentuhan nurani insan. Aku... Keliru ataukah Bodoh? Ko...

(Puisi Merdeka) Memperingati HUT RI ke 74

Seperti Apa Makna Merdekamu? Merdeka! Merdeka! Merdeka! Pekik Merdeka terdengar di seantero jagad Republik. Suara Merdeka menggema di di celah lembah. Nyaring gema Merdeka di tanjakan perbukitan dan pegunungan. Desah dan desis Merdeka di kedalaman lautan. Di arasy manapun kata bertuah, Merdeka diperdengarkan. Di sana ada tepik sorak, gegap gempita. Lalu,  Ekspresi merdeka telah menjadi darah dalam seluruh sel daging dan tulang insan Rona bangsa di muka bangsa lain tegak berdiri tak hendak menunduk walau sedetik. Kekar hendak menuju kekal selamanya ketika merdeka telah digenggam. Tegar hendak menggapai ketulusan visi di jajaran berjejar bangsa-bangsa. Apakah itu makna merdeka bagimu? Dapat saja kau merdeka pada hari ini untuk beragam karsa. Mungkin kau merdeka untuk mengkastakan umat. Saat itu kau tempatkan dogma sebagai yang prioritas. Lalu kau berdiri di samping dogmamu untuk kemuliaan ego. sementara kaum lemah kau kafirkan. Mungkin ...