Postingan

Menampilkan postingan dengan label Koro'oto

Aku Menjerit dalam Diam

Suara! Itu salah satu modal yang Tuhan berikan padaku. Suara itu menjadi milikku. Aku sungguh menyadari bahwa suara itu untuk kemuliaan Dia yang memberikannya. Aku sungguh rindu dan terus berkerinduan untuk memuliakan nama-Nya dan kasih-Nya. Dia yang memberikan suara itu tidak menuntut keindahan lagi merdunya, karena Dia mengetahui bahwa ada padaku keterbatasan dan kelemahan. Suara itu, menurut mereka yang paham, ada warnanya. Warna suaraku rupanya hitam pekat. Ketika aku keluarkan, terasa di telinga yang lain sebagai tidak berkenan. Mungkin Dia yang memberikannya merasakan ketidakperkenanan itu? Suara! Kau modal terbaik milikku. Aku sedih ketika berkali-kali sudah suaraku tak berkenan pada telinga orang. Suaraku benar-benar tak layak rupanya untuk memuliakan nama-Nya dan kasih-Nya. Suara! Kau dibantu perlengkapan yang menggaungkanmu baik di dalam ruang tertutup maupun arena terbuka. Segala perlengkapan bantuan itu sesungguhnya akan sangat menolong dan menyenangkan telinga pendenga...

(Puisi Merdeka) Memperingati HUT RI ke 74

Seperti Apa Makna Merdekamu? Merdeka! Merdeka! Merdeka! Pekik Merdeka terdengar di seantero jagad Republik. Suara Merdeka menggema di di celah lembah. Nyaring gema Merdeka di tanjakan perbukitan dan pegunungan. Desah dan desis Merdeka di kedalaman lautan. Di arasy manapun kata bertuah, Merdeka diperdengarkan. Di sana ada tepik sorak, gegap gempita. Lalu,  Ekspresi merdeka telah menjadi darah dalam seluruh sel daging dan tulang insan Rona bangsa di muka bangsa lain tegak berdiri tak hendak menunduk walau sedetik. Kekar hendak menuju kekal selamanya ketika merdeka telah digenggam. Tegar hendak menggapai ketulusan visi di jajaran berjejar bangsa-bangsa. Apakah itu makna merdeka bagimu? Dapat saja kau merdeka pada hari ini untuk beragam karsa. Mungkin kau merdeka untuk mengkastakan umat. Saat itu kau tempatkan dogma sebagai yang prioritas. Lalu kau berdiri di samping dogmamu untuk kemuliaan ego. sementara kaum lemah kau kafirkan. Mungkin ...

Duka Kuratapi dan Kusyukuri

Gambar
Duka kuratapi dan Kusyukuri Lima kali sudah tangis merebak Berulang lagi ratap menyeruak Kampungku Koro'oto berteriak Ketika aku di luar sana hati tergerak Batsyeba Bois - Rasi, rebah Marthen Ora - rebah Enggelina Bani-Ora - rebah Orgenis Bois - rebah Eliazer Ora - rebah Saat itu aku layaknya pemusik rebana Nun jauh di sana berdendang lagu bernada. Aku bersayap terbang jauh Aku bergumul dalam tugas nun jauh Aku debu lemah berdaging lelah Hingga tak dapat bangun saat rebah. Saat demikian, Aku tegar walau tak tegas Aku merasa kekar walau tak kekal. Aku dihibur rekan dalam sapaan manis Aku dikuatkan sahabat dalam topangan necis Lalu aku dapat tersenyum yang mungkin saja manis, walau sesungguhnya ronaku tak necis. Selamat jalan kakak Eliazer Ora. Adik tak dapat meraba jasadmu. Tapi... Adik dapat merasakan jasamu. Terima kasih Tuhan. Duka kuratapi dan kusyukuri. Chiang Mai, 31 Juli 2019