Postingan

Gambar
Upacara Senin, Absensi dan Sampah Plastik Hari ini, Senin, 7 Oktober 2019 kembali SD Inpres Buraen mengadakan upacara bendera. Sesuai permintaan minggu sebelumnya supaya petugas-petugas upacara berganti-gantian dan saling berkolaborasi antara siswa laki-laki dan perempuan, maka hari ini petugas-petugasnya seimbang antara laki-laki dan perempuan. Sementara ada harapan dari Pembina Upacara agar para guru bersedia untuk menjadi Pembina Upacara secara bergantian, khususnya pada guru-guru senior. Dalam amanat Pembina upacara pagi ini diingatkan dua hal, pertama menyangkut dokumen kependudukan milik peserta didik/siswa yaitu Kartu Keluarga dan Akte Kelahiran mesti selalu diingatkan agar melalui anak, mereka dapat mengingatkan orang tua untuk mengurus dokumen-dokumen itu. Terlebih lagi pada siswa calon peserta ujian tahun ini. Selanjutnya diingatkan pula akan pentingnya menjaga kesehatan, Cuaca atau iklim yang makin panas, biasanya kita sangat suka mengonsumsi air miner...

Aku Menjerit dalam Diam

Suara! Itu salah satu modal yang Tuhan berikan padaku. Suara itu menjadi milikku. Aku sungguh menyadari bahwa suara itu untuk kemuliaan Dia yang memberikannya. Aku sungguh rindu dan terus berkerinduan untuk memuliakan nama-Nya dan kasih-Nya. Dia yang memberikan suara itu tidak menuntut keindahan lagi merdunya, karena Dia mengetahui bahwa ada padaku keterbatasan dan kelemahan. Suara itu, menurut mereka yang paham, ada warnanya. Warna suaraku rupanya hitam pekat. Ketika aku keluarkan, terasa di telinga yang lain sebagai tidak berkenan. Mungkin Dia yang memberikannya merasakan ketidakperkenanan itu? Suara! Kau modal terbaik milikku. Aku sedih ketika berkali-kali sudah suaraku tak berkenan pada telinga orang. Suaraku benar-benar tak layak rupanya untuk memuliakan nama-Nya dan kasih-Nya. Suara! Kau dibantu perlengkapan yang menggaungkanmu baik di dalam ruang tertutup maupun arena terbuka. Segala perlengkapan bantuan itu sesungguhnya akan sangat menolong dan menyenangkan telinga pendenga...

puisi, Sehelai Daun itupun Gugur

Sehelai Daun itupun Gugur Pagi-pagi ini, Sepi… Akh … Tidak! Suara kokok ayam menghalau gelap gelagapan. Kicau burung di pepohonan mengusir remang hingga terang. Angin belum bersedia keluar dari sarangnya. Rupanya ia masih pulas dalam mimpinya. Agar ketika muncul, ia berkisah di telinga kaum, Bahwa ada keheningan sepagi ini, Dan kekeringan di siang nanti. Hingga debu membalut kaki menendang. Ketika pandang kuangkat, Sehelai daun gugur, Melayang ia terbang turun Tanpa daya penahan raganya Ia terus turun perlahan, dan perlahan lagi. Hingga tiba di permukaan datar. Ia tersenyum ringan padaku. Aku trenyuh dibuatnya begitu. Daun itu… Berkisah ia tentang hidupnya yang sebentar saja. Dari bertunas, menjadi dapur pada pohonnya Menutrisi diri hingga akhirnya tak kuasa pada sang surya. Menguning, Memerah, Terbang turun, jatuh. Kering dan ringan dipermainkan angin Hancur lebur dilumat debu dan bakteri. Daun itu… Telah gugu...

Hukum Adat di Kalangan Orang Amarasi Raya (seri-3)

Gambar
Subat, Upacara sekaligus Hukum Adat (3) Semua makhluk hidup di permukaan bumi ini, pada akhirnya akan mati. Manusia, salah satu di antara makhluk hidup sebagai yang diciptakan berbeda dengan makhluk hidup lainnya itu, pada akhirnya akan mati. Mati, sebagai kata atau istilah dalam Bahasa Indonesia ada pilihannya. Mati sebagai istilah yang terasa kurang sopan. Meninggal dan wafat, atau mangkat terasa lebih terhormat. Istilah manakah yang tepat? Seringkali itu hanyalah persoalan nilai rasa.  Orang Amarasi sendiri punya sebutan untuk kematian dengan metafor yang menarik. Berikut ini istilah-istilah yang sudah pernah dibahas dalam pertemuan-pertemuan ilmiah gerejani di Klasis Amarasi Timur. A.     Filosofi kehidupan dan kematian 1.       In nuut ee namsoup goen Frase pendek di atas in   nuut   ee   namsoup   goen,   bila diterjemahkan secara harfiah artinya, kayu bakarnya telah habis terbakar . Fras...

Hukum Adat di Kalangan Orang Amarasi Raya (seri-2)

'Soko-Noo' , Hukum Adat Menjaga Keseimbangan Alam (2) Heronimus Bani Pengantar Kemarin saya mengetengahkan hukum perkawinan yang mungkin masih akan terus berkembang bila didiskusikan. Istilah-istilah yang digukan dalam seremoni perkawinan menurut hukum adat a-la orang Amarasi Raya hampir selalu berubah, termasuk di dalamnya perubahan bila menggunakan pendekatan maso minta , meminang. Ada istilah Ripa'-Oko'  yang isinya sama dengan meminang. Sayangnya, seringkali maso minta   atau meminang itu masih dibarengi dengan mapua' . Hari ini saya mengetengahkan satu hukum adat yang juga dikenal orang Amarasi Raya dan Atoin' Meto' pada umumnya dengan istilah berbeda. Orang Amarasi Raya pun masih punya varian istilah untuk menjaga keseimbangan alam. Pengetahuan yang saya ketahui istilah itu disebut 'Soko-Noo'. Tanda-tanda di depan dan belakang masing-masing mewakili satu fonem. 'Soko-Noo'   untuk Keseimbangan Alam Hukum Adat yang ...

Hukum Adat di Kalangan Orang Amarasi Raya (tulisan berseri)

Hukum Adat a-la Atoin’ Meto’ Amarasi Raya (1) Heronimus Bani Pengantar Hari Minggu, (8/9/19), seorang mahasiswa sekolah tinggi hokum mendatangi saya untuk berdiskusi setelah semalam sebelumnya ia mengirim pesan melalui aplikasi WhatsApp. Kami berdiskusi tidak seberapa lama berhubung kami mengalami kebingungan tentang materi yang ia bawa sebagai tugas dari dosen yang menugaskan. Menariknya diskusi yang tidak berapa lama ini jatuh pada permintaan sang dosen untuk mencatat dan mengurai sepuluh hokum adat yang berlaku di tengah-tengah kehidupan bersama. Saya agak merasa geli saja, berhubung terminology sepuluh hokum seperti Dasa Titah dalam Taurat/Torah. Kami berdiskusi. Hasil diskusi yang tidak seberapa itu saya minta untuk ditulis. Sementara saya sendiri mesti menulis yang sudah saya sampaikan dengan ulasan yang kiranya menjadi materi belajar pada diri sendiri dan komunitas pembaca yang mau membaca artikel ini. Pertanyaan muncul ketika harus menulis bagian ini adalah:...

Kata Bermakna dari Anggota Tubuh

Kata Bermakna dari Anggota Tubuh Pagi-pagi ini saya membaca tulisan-tulisan yang pernah saya tulis dan simpan, Saya temukan satu di antara sedikit yang saya anggap perlu untuk mendapatkan respon diskusi bila pembaca senang mendiskusikannya dengan saya. Saya kutip secara utuh tanpa perbaikan agar pembaca dapat mengetahui latar belakang adanya tulisan ini yang saya beri judul Kata Bermakna dari Anggota Tubuh. A.    Pengantar Di sela-sela rapat para kepala SD se-Kecamatan Amarasi Selatan (01/10/18) saya secara iseng menulis catatan sebagai intermeso karena agak jenuh. Saya menulis kata bermakna yang menggunakan kata mata . Kata-kata itu kemudian saya unggah di dinding status akun feisbuk Teres Berita. Kurang dari sejam kemudian (10.30 – 11.13), saya mendapati 25 orang memberi tanda suka dan beberapa orang di antaranya menambah daftar kata bermakna yang saya unggah. Jumlahnya mencapai 24 kata. Saya edit sedikit unggahan itu, dan saya beri nama seri 1. Sampai dengan t...