Fetof ~ Naof: Perempuan di Depan Kata, Laki-Laki dalam Struktur

 


A. Etimologi

Fetof berarti saudara perempuan, sedangkan naof berarti saudara laki-laki. Keduanya merupakan istilah kekerabatan dalam bahasa Amarasi. Dalam percakapan sehari-hari, terdapat sejumlah pasangan istilah yang memperlihatkan pola menarik: dalam beberapa pasangan yang menunjuk perempuan dan laki-laki, istilah untuk perempuan disebut lebih dahulu.

Beberapa contoh yang dapat diamati antara lain:

  • aina'-ama' ~  ibu dan bapak;
  • aan feto - aan mone ~ anak perempuan dan anak laki-laki;
  • bae feto - bae mone ~  ipar perempuan dan ipar laki-laki;
  • be'i - na'i ~ nenek dan kakek;
  • bifee - atoni' ~  perempuan dan laki-laki;
  • fee - mone ~ istri dan suami;
  • bifee mnasi' - atoni mnasi' ~ perempuan tua dan laki-laki tua;
  • aan nanef - moen feuf ~ menantu perempuan dan menantu laki-laki;
  • baab feto - baab mone ~ bibi dan paman, tante dan om.

Dari contoh tersebut, kita dapat mencatat satu fakta kebahasaan: terdapat sejumlah pasangan istilah yang dalam pemakaian sebagaimana dicatat di sini menempatkan istilah perempuan sebelum istilah laki-laki.

Namun, penting untuk segera memberikan batas. Urutan penyebutan bukan dengan sendirinya bukti tentang urutan kedudukan sosial.

Bahwa fee disebut sebelum mone, misalnya, tidak dengan sendirinya berarti istri mempunyai kedudukan sosial lebih tinggi daripada suami. Demikian pula, aina' yang disebut sebelum ama' tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa ibu mempunyai kewenangan lebih besar daripada bapak.

Urutan kata adalah data bahasa. Makna sosial yang mungkin berada di baliknya merupakan persoalan lain yang perlu dibaca melalui konteks budaya yang lebih luas.

Dengan batas ini, fetof ~ naof menjadi menarik. Bukan karena dua kata tersebut secara otomatis membuktikan suatu sistem nilai tertentu, melainkan karena keduanya membuka pintu untuk melihat hubungan antara bahasa, kekerabatan, adat, peran perempuan, dan struktur sosial masyarakat Amarasi.

B. Konteks Budaya

Untuk memahami persoalan tersebut, pola bahasa tidak dapat dipisahkan begitu saja dari kehidupan masyarakat yang menggunakan bahasa itu.

Dalam kehidupan sosial Amarasi dikenal konsep amaf, yang berkaitan dengan kedudukan bapak dan struktur kekerabatan. Masyarakat Timor Barat sangat kental dengan konsep amaf. Dalam konteks tertentu, laki-laki mempunyai posisi penting dalam garis keturunan, nama keluarga, hubungan kekerabatan, serta kewenangan adat. Karena itu, jika kita melihat kehidupan sosial hanya dari sisi struktur tersebut, kita akan menemukan adanya posisi penting laki-laki dalam sistem kekerabatan.

Tetapi kehidupan masyarakat tidak hanya terdiri atas struktur kewenangan. Ada keluarga. Ada perkawinan.  Ada hubungan antarkerabat. Ada adat. Ada peran perempuan.  Ada bentuk-bentuk penghormatan yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam berbagai urusan adat, perempuan juga mempunyai tempat yang terhormat dan tidak dapat dipisahkan dari berlangsungnya kehidupan keluarga serta masyarakat. Karena itu, gambaran tentang masyarakat Amarasi tidak akan lengkap apabila hanya dilihat dari posisi laki-laki dalam struktur amaf.

Di sinilah kita perlu membedakan tiga wilayah pembacaan.

Pertama, bahasa. Kita mengamati bagaimana istilah digunakan dan bagaimana pasangan istilah itu disusun dalam percakapan.

Kedua,struktur sosial dan praktik adat. Kita melihat siapa yang mempunyai peran, tanggung jawab, kewenangan, dan kehormatan dalam kehidupan sosial.

Ketiga, tafsiran kebudayaan. Dari dua lapisan sebelumnya, kita dapat mengajukan renungan tentang nilai, kebijaksanaan, dan pandangan hidup.

Ketiga wilayah ini berhubungan, tetapi tidak boleh dicampuradukkan. Dengan cara demikian, kita dapat berbicara tentang fetof ~ naof secara lebih jujur: bahasa memberi kita pola; kehidupan sosial memberi kita konteks; kebijaksanaan lahir dari pembacaan yang hati-hati terhadap keduanya.

 

C. Perempuan di Depan Kata, Laki-Laki dalam Struktur

Ada sesuatu yang menarik dalam kata-kata yang kita ucapkan setiap hari. Sering kali kita mengucapkannya tanpa berpikir mengapa susunannya demikian.

Kita mengatakan:

aina'-ama'.

aan feto-aan mone.

bae feto-bae mone.

be'i-na'i.

bifee-atoni'.

fee-mone.

aan nanef-moen feuf.

baab feto-baab mone.

Dan ketika kita mengatakan:

fetof-naof, kita pun menyebut saudara perempuan sebelum saudara laki-laki.

Tidak ada yang aneh dalam percakapan itu. Ia mengalir sebagai bahasa sehari-hari. Tetapi seorang penulis kebudayaan mempunyai kewajiban untuk sesekali berhenti di tengah arus bahasa dan bertanya:

Mengapa susunan itu demikian? Pertanyaan itu bukan berarti kita sudah mempunyai jawabannya. Justru pertanyaan tersebut adalah awal dari pembacaan.

1. Apa yang sebenarnya kita ketahui?

Yang pertama-tama kita ketahui adalah sesuatu yang sederhana: dalam sejumlah pasangan istilah yang dicatat, perempuan disebut lebih dahulu. Itulah data yang kita miliki. Kita belum dapat mengatakan dari data tersebut bahwa perempuan pasti ditempatkan lebih tinggi. Kita juga belum dapat mengatakan bahwa masyarakat sengaja membuat perempuan lebih terhormat melalui tata urutan bahasa. Bahkan kita belum dapat memastikan bahwa semua penutur menggunakan urutan itu dalam segala situasi.

Karena itu, tulisan ini tidak hendak menjadikan urutan kata sebagai semacam “bukti” bahwa masyarakat Amarasi adalah masyarakat yang secara linguistik menempatkan perempuan di atas laki-laki.

Kesimpulan seperti itu terlalu jauh. Yang lebih tepat adalah mengatakan: Ada pola penyebutan yang menarik untuk diperhatikan. Dan pola tersebut menjadi semakin menarik ketika dibandingkan dengan kenyataan sosial yang ada.

2. Bahasa tidak selalu sama dengan struktur kekuasaan

Bahasa dan struktur sosial dapat saling berhubungan, tetapi keduanya tidak selalu berjalan dalam arah yang sama. Dalam masyarakat Amarasi, konsep amaf memberikan tempat penting kepada laki-laki dalam struktur tertentu. Laki-laki sebagai ama' bukan sekadar kata yang berlawanan dengan aina'. Dalam kehidupan kekerabatan, kedudukan bapak dan laki-laki mempunyai konteks sosial yang lebih luas.

Namun pada saat yang sama kita mendengar aina'-ama'. Perempuan disebut lebih dahulu. Kita mendengar fee-mone. Istri disebut lebih dahulu. Kita mendengar aan feto-aan mone. Anak perempuan disebut lebih dahulu. Di sinilah kita berhadapan dengan sebuah kenyataan yang tidak perlu dipaksa menjadi paradoks.

Urutan kata tidak harus identik dengan urutan kewenangan. Seseorang dapat disebut lebih dahulu tanpa berarti ia mempunyai kewenangan lebih besar. Sebaliknya, seseorang dapat mempunyai kewenangan tertentu tanpa harus disebut lebih dahulu.

Dengan memahami perbedaan ini, kita dapat menghindari dua kesalahan sekaligus. Kesalahan pertama adalah mengatakan, “Karena perempuan disebut lebih dahulu, berarti perempuan lebih tinggi.” Kesalahan kedua adalah mengatakan, “Karena laki-laki mempunyai posisi penting dalam amaf, maka perempuan pasti berada di belakang dalam seluruh kehidupan.” Keduanya sama-sama terlalu sederhana.

3. Perempuan di depan kata

Namun, setelah batas tersebut ditegaskan, kita tetap dapat memberikan ruang bagi sebuah renungan. Perempuan sering muncul lebih dahulu dalam sejumlah pasangan istilah yang kita gunakan untuk menyebut manusia. Apakah ini mempunyai makna? Kita tidak harus segera menjawab “ya”. Tetapi kita juga tidak perlu menutup pertanyaannya.

Mungkin saja urutan tersebut terbentuk karena kebiasaan bahasa. Mungkin karena kelaziman dalam percakapan. Mungkin karena sejarah penggunaan istilah. Mungkin pula terdapat pertimbangan kesantunan dalam sebagian konteks. Semua kemungkinan tersebut perlu dibedakan dari fakta kebahasaannya.

Karena itu, dalam buku ini kita cukup mengatakan bahwa pola tersebut menarik untuk direnungkan, tanpa menjadikannya sebagai bukti tunggal mengenai kedudukan perempuan. Di sinilah sastra dan penelitian dapat berjalan bersama.

Penelitian bertanya: Apa datanya? Sastra bertanya: Apa yang dapat kita renungkan dari data itu? Keduanya tidak harus saling meniadakan.

4. Perempuan dan kehormatan adat

Jika kita hendak berbicara lebih jauh tentang kehormatan perempuan, pijakannya sebaiknya bukan semata-mata urutan kata. Pijakannya adalah kehidupan adat yang nyata.

Perempuan hadir dalam keluarga. Perempuan hadir dalam perkawinan. Perempuan hadir dalam jaringan kekerabatan. Perempuan menjadi bagian dari hubungan yang mempertemukan keluarga dan komunitas. Dalam berbagai urusan adat, perempuan memperoleh tempat dan perlakuan yang menunjukkan bahwa keberadaannya mempunyai arti penting dalam kehidupan bersama.

Maka, pernyataan bahwa perempuan mempunyai tempat terhormat dalam adat perlu dibangun dari praktik adat dan pengalaman sosial, bukan sekadar dari kenyataan bahwa kata perempuan sering muncul lebih dahulu.

Di sini letak perbedaannya. Urutan bahasa adalah pengamatan. Kehormatan adat adalah kenyataan sosial yang perlu dilihat melalui praktik. Menghubungkan keduanya adalah tafsiran.

5. Perempuan di depan kata, laki-laki dalam struktur

Ada sebuah gambaran yang kemudian dapat kita gunakan sebagai metafora. Perempuan berada di depan kata, sementara laki-laki tampak kuat dalam struktur. Kalimat ini bukan kesimpulan ilmiah mengenai masyarakat Amarasi. Ia adalah cara puitis untuk menggambarkan dua kenyataan yang kita temukan ketika membaca bahasa dan kehidupan sosial secara berdampingan.

Di satu sisi, kita menemukan sejumlah istilah yang mendahulukan perempuan. Di sisi lain, kita mengetahui adanya struktur amaf yang memberikan posisi penting kepada laki-laki. Kedua hal itu hidup dalam kebudayaan yang sama. Justru karena itulah kita tidak perlu memilih salah satunya dan meniadakan yang lain.

Kebudayaan dapat mempunyai lapisan. Bahasa dapat mempunyai kebiasaan. Adat dapat mempunyai aturan. Masyarakat dapat mempunyai struktur. Dan manusia yang hidup di dalamnya dapat mengalami semuanya secara bersamaan.

6. Jangan membaca “di depan” sebagai “di atas”

Di sinilah istilah fetof ~ naof mengajarkan kehati-hatian. Di depan tidak selalu berarti di atas. Dalam bahasa, “lebih dahulu” hanya menunjukkan urutan. Dalam struktur sosial, “lebih berwenang” merupakan persoalan yang berbeda. Dalam adat, “lebih dihormati” juga mempunyai ukuran dan konteks yang berbeda lagi. Karena itu, kita harus berhati-hati menggunakan istilah seperti “dominan”, “lebih tinggi”, atau “lebih rendah”.

Satu ungkapan dapat mendahulukan sebuah istilah/idiom tanpa membangun hierarki sosial dari urutan tersebut. Dan suatu komunitas masyarakat dapat memiliki struktur patriarkal tanpa berarti setiap tindakan, setiap hubungan, dan setiap bentuk penghormatan di dalamnya selalu menempatkan perempuan di bawah laki-laki. Kebudayaan tidak sesederhana susunan dua kata.

7. Tetapi bahasa tetap penting

Kehati-hatian tersebut bukan berarti bahasa kehilangan arti. Justru sebaliknya.  Bahasa adalah pintu pertama untuk melihat kebudayaan. Jika suatu pola terus muncul dalam percakapan, pola itu layak dicatat. Jika sebuah istilah mempunyai pasangan yang khas, pasangan itu layak dipahami. Jika suatu kata hidup dalam hubungan kekerabatan, kata itu perlu ditempatkan dalam konteks sosialnya.

Bahasa adalah salah satu cara masyarakat menyimpan pengalaman. Tetapi untuk mengetahui seluruh maknanya, kita harus pergi lebih jauh daripada kamus. Kita harus mendengar bagaimana kata itu digunakan. Kita harus melihat dalam situasi apa kata itu diucapkan. Kita harus memahami siapa yang berbicara kepada siapa. Kita harus melihat bagaimana kata itu berhubungan dengan adat dan kehidupan. Barulah kemudian kita dapat mencoba menarik sebuah renungan.

8. Dari bahasa menuju kebijaksanaan

Maka, apa yang dapat kita ambil dari fetof ~ naof? Bukan terutama kesimpulan bahwa perempuan lebih tinggi. Bukan pula kesimpulan bahwa laki-laki lebih tinggi. Yang lebih menarik adalah satu pelajaran tentang cara membaca kebudayaan.

Jangan mengambil kesimpulan besar hanya dari satu kata. Jangan pula mengabaikan satu  kata hanya karena struktur sosial tampaknya berkata lain. Dengarkan bahasa. Lihat adat. Pahami struktur. Perhatikan praktik kehidupan. Kemudian renungkan.

Cara membaca semacam ini penting terutama ketika kebudayaan diwariskan kepada generasi baru. Generasi mendatang perlu mengetahui bukan hanya “apa katanya”, tetapi juga “di mana kata itu hidup” dan “bagaimana masyarakat memaknainya”.

Dengan demikian, fetof ~ naof tidak berhenti sebagai pasangan kata yang berarti saudara perempuan dan saudara laki-laki. Ia menjadi satu unit jendela kecil untuk melihat betapa kayanya hubungan antara bahasa dan kehidupan.

9. Sebuah pertanyaan untuk generasi sekarang

Ada satu renungan yang dapat kita bawa lebih jauh. Jika dalam sejumlah ungkapan perempuan sering disebut lebih dahulu, sementara dalam struktur tertentu laki-laki mempunyai kewenangan penting, maka pertanyaan bagi generasi sekarang bukanlah:

Siapa yang harus berada di depan? Pertanyaan yang lebih penting adalah: Bagaimana perempuan dan laki-laki dapat menjalankan peran masing-masing dengan tetap menjaga martabat, tanggung jawab, dan kehidupan bersama? Sebab masyarakat tidak dibangun hanya oleh urutan kata.

Masyarakat dibangun oleh tindakan. Penghormatan bukan hanya sesuatu yang diucapkan. Penghormatan harus terlihat dalam cara seseorang memperlakukan orang lain. Karena itu, apabila bahasa menyediakan ruang bagi perempuan untuk disebut lebih dahulu, kita dapat menjadikannya sebagai bahan renungan moral, bukan sebagai bukti ilmiah bahwa kata-kata yang baik akan menjadi semakin berarti apabila diwujudkan dalam perilaku yang baik.

Dan apabila struktur amaf memberikan tanggung jawab tertentu kepada laki-laki, maka tanggung jawab itu pun tidak semestinya hanya dibaca sebagai hak untuk memimpin. Ia juga harus dibaca sebagai tanggung jawab untuk menjaga kehidupan keluarga dan kekerabatan. Dengan demikian, laki-laki tidak perlu kehilangan martabat agar perempuan memperoleh martabat. Perempuan tidak perlu mengambil posisi laki-laki agar dihormati. Yang diperlukan adalah kehidupan yang memungkinkan keduanya menjalankan tanggung jawab dengan saling menghargai.

10. Bahasa yang mengingatkan, adat yang mengajarkan

Pada akhirnya, fetof ~ naof dapat kita biarkan tetap menjadi dua kata sederhana.

Fetof — saudara perempuan.

Naof — saudara laki-laki.

Kita tidak perlu membebani keduanya dengan kesimpulan yang terlalu besar. Tetapi kita juga tidak perlu membiarkan keduanya lewat begitu saja. Sebab di balik kata-kata sederhana itu terdapat dunia kehidupan: keluarga, hubungan darah, perkawinan, kekerabatan, adat, kewenangan, penghormatan, dan kebersamaan.

Perempuan mungkin sering terdengar lebih dahulu dalam sejumlah pasangan kata. Laki-laki mungkin mempunyai posisi penting dalam struktur kekerabatan tertentu. Perempuan tetap memiliki tempat terhormat dalam banyak urusan adat. Semua itu adalah bagian dari kenyataan budaya yang perlu dibaca bersama, bukan dipertentangkan secara tergesa-gesa. Maka, barangkali kebijaksanaan yang dapat kita tarik bukanlah tentang si apa yang harus berada di depan dan siapa yang harus berada di belakang. Melainkan tentang bagaimana manusia menggunakan posisi yang dimilikinya untuk menjaga kehidupan bersama. Sebab pada akhirnya, kehidupan tidak ditentukan oleh siapa yang disebut lebih dahulu.

Kehidupan ditentukan oleh bagaimana manusia saling menghormati setelah nama-nama itu selesai disebut.

D. Nilai Kebijaksanaan

Urutan kata bukan otomatis urutan kekuasaan. Perempuan yang disebut lebih dahulu tidak dengan sendirinya berarti perempuan mempunyai kedudukan sosial lebih tinggi. Pola bahasa perlu dicatat sebagai pola bahasa.
Ia merupakan data kebahasaan yang menarik, tetapi tidak boleh dibebani kesimpulan budaya yang tidak didukung oleh data lain.

Struktur amaf perlu dibaca dalam konteksnya. Posisi penting laki-laki dalam struktur kekerabatan tertentu tidak berarti bahwa seluruh kehidupan sosial dapat disimpulkan sebagai dominasi laki-laki. Kehormatan perempuan perlu dilihat melalui praktik adat. Jika perempuan memperoleh tempat terhormat dalam berbagai urusan adat, hal itu sebaiknya dijelaskan melalui praktik dan pengalaman sosial yang nyata.

Bahasa, struktur sosial, dan adat adalah tiga lapisan yang saling berhubungan tetapi tidak identik. Ketiganya perlu dibaca bersama tanpa mencampuradukkan bukti dan tafsiran. Jangan memaksakan makna kepada kebudayaan.
Kebudayaan perlu didengarkan sebagaimana ia hidup, kemudian ditafsirkan dengan hati-hati.

Perempuan dan laki-laki tidak perlu dipertentangkan sebagai pemenang dan yang kalah. Perbedaan posisi dan peran dapat menjadi bagian dari tanggung jawab bersama dalam menjaga kehidupan. Penghormatan yang diucapkan perlu diwujudkan dalam tindakan. Bahasa yang baik memperoleh makna yang lebih dalam ketika diwujudkan dalam perilaku yang menghormati martabat sesama.

Menulis tentang kebudayaan membutuhkan kejujuran intelektual.
Penulis perlu membedakan dengan jelas mana yang merupakan data, mana yang merupakan konteks, dan mana yang merupakan renungan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Natu' Pilu', metode pewarisan budaya pada masyarakat Pah Binoni Amfo'an

Musik dan Tari dalam Liturgi Ibadah

Peniti, Bawang Putih, Genoak, antara Mitos, Pengetahuan dan Kepercayaan