Kurut-Kaet, Nopu-Hau, Sisa'en too Mfaun
Kematian datang, tangis merebak, tetangga merapat, para tokoh berdiskusi. Keluarga dekat dan jauh menangisi jenazah, para tokoh menata pelayanan hingga upacara penguburan. Itulah suasana dan nuansa ketika kematian menerpa. Ada tangisan, namun ada kerja bersama, solidaritas tetap terjaga, kerekatan komunitas tiada terhapuskan. Maka, ketika kematian menerpa, suasananya menjadi tanggung jawab bersama.
A. Etimologi
Kurut-kaet berarti ratap dan tangis. Istilah ini digunakan dalam
suasana kematian atau kedukaan, ketika keluarga batih, keluarga dekat, dan
keluarga jauh menangisi orang yang telah meninggal. Dalam suasana itu, tangisan
bukan hanya ungkapan kesedihan pribadi, melainkan juga menjadi suara yang
terdengar di luar rumah duka dan diketahui oleh lingkungan sekitarnya.
Dalam konteks ini dikenal pula ungkapan nsiun ma nain,
yakni tangisan yang disertai cerita atau ungkapan mengenai orang yang telah
meninggal. Tangisan tersebut bukan semata-mata suara kesedihan, tetapi juga
menjadi ruang untuk mengenang dan menceritakan kehidupan orang yang telah
pergi.
Nopu-hau berarti lubang kubur dan peti jenazah. Istilah ini
menunjuk pada dua kebutuhan pokok dalam persiapan penguburan: menyiapkan tempat
di mana jasad akan dimakamkan dan menyiapkan peti jenazah. Karena itu, ketika
para tokoh dan masyarakat mulai datang ke rumah duka, salah satu perhatian
utama mereka adalah urusan nopu-hau.
Sementara itu, sisa’en too mfaun berarti membubarkan
banyak orang. Dalam konteks kematian, ungkapan ini berhubungan erat dengan
penyediaan konsumsi bagi banyak orang yang datang untuk menyatakan duka cita
dan mengikuti rangkaian upacara penguburan.
Ketiga istilah tersebut dengan demikian berada dalam
satu rangkaian pengalaman: kurut-kaet sebagai ungkapan duka, nopu-hau
sebagai pekerjaan yang harus diselesaikan untuk penguburan, dan sisa’en too
mfaun sebagai bagian dari tanggung jawab terhadap orang banyak yang hadir dalam
kedukaan.
B. Konteks Budaya
Kematian seseorang dalam masyarakat Pah Amarasi tidak
hanya menjadi peristiwa yang dialami oleh keluarga inti. Ketika seseorang
meninggal, keluarga batih, keluarga dekat, keluarga jauh, tetangga, dan
masyarakat kampung masuk ke dalam sebuah ruang sosial yang sama: ruang
kedukaan.
Tangisan keluarga menjadi tanda pertama yang
mengabarkan bahwa telah terjadi kematian. Keluarga seakan-akan “terkurung” (kurut/nkuur)
dalam rumah karena duka yang begitu dalam. Tangisan mereka dapat berlangsung
dengan kuat dan terdengar sampai ke lingkungan sekitar. Dari suara itulah
berita kematian mulai bergerak dari satu rumah ke rumah lainnya.
Tangisan menjadi semacam bahasa sosial kedukaan.
Ketika tetangga mendengarnya, kabar diteruskan kepada para tokoh. Para tokoh
kemudian datang dan bersama-sama memikirkan apa yang harus dilakukan.
Salah satu urusan pokok adalah nopu-hau. Lubang
kubur perlu digali dan peti jenazah perlu disiapkan. Pekerjaan ini tidak
dibiarkan menjadi beban keluarga yang sedang berduka. Masyarakat mengambil
bagian dalam pekerjaan yang harus segera diselesaikan.
Di samping itu, beberapa orang diutus untuk membawa
berita duka cita kepada keluarga jauh dan kampung tetangga. Utusan tersebut
disebut haef. Kehadiran haef memperlihatkan bahwa berita kematian perlu
disampaikan melalui hubungan kekerabatan dan jaringan sosial yang telah
dibangun jauh sebelum kematian terjadi.
Para tokoh yang dipercaya kemudian memobilisasi
masyarakat untuk menyiapkan tenda dan berbagai perlengkapan yang diperlukan
bagi pelaksanaan subat, yaitu upacara penguburan. Ketika masa berkabung
berlangsung, keluarga jauh dan masyarakat dari kampung tetangga berdatangan.
Rumah duka dan lingkungan sekitarnya menjadi tempat perjumpaan banyak orang.
Karena banyak orang hadir, kebutuhan konsumsi pun menjadi bagian penting dari penyelenggaraan
kedukaan.
Konsumsi disiapkan oleh keluarga duka dengan dukungan
keluarga dekat. Pengolahannya dilakukan bersama oleh masyarakat yang
dimobilisasi melalui pemangku adat, lembaga kemasyarakatan, dan perangkat
pemerintah kampung. Semua itu dilakukan agar selama rangkaian subat
berlangsung, orang-orang yang datang untuk berduka cita tetap mendapatkan
makanan dan minuman yang layak.
Dalam konteks inilah ungkapan sisa’en too mfaun
memperoleh tempatnya. Banyak orang datang karena kedukaan, dan banyak orang
pula harus dilayani. Setelah seluruh rangkaian selesai, mereka diharapkan dapat
kembali ke rumah masing-masing dalam keadaan telah menerima konsumsi.
C. Ketika Tangisan Menjadi Berita dan Kedukaan Menjadi Kerja Bersama
Kematian membuat sebuah rumah tiba-tiba berubah. Rumah
yang biasanya dipenuhi percakapan sehari-hari menjadi rumah yang dipenuhi
tangisan. Suara orang berbicara berubah menjadi suara ratapan. Langkah kaki
yang biasanya datang membawa urusan masing-masing kini datang membawa kesediaan
untuk berbagi duka.
Di situlah kurut-kaet menemukan maknanya. Ratap dan
tangis bukan sekadar ekspresi kesedihan. Dalam kehidupan sosial masyarakat,
tangisan itu dapat menjadi tanda yang mengabarkan bahwa seseorang telah
meninggal. Ia keluar dari ruang keluarga, menembus dinding rumah, terdengar
oleh tetangga, lalu menjadi berita yang bergerak dari satu orang kepada orang
lain.
Tangisan menjadi bahasa pertama kedukaan. Tetapi
kedukaan tidak berhenti pada tangisan. Ketika kabar telah diketahui,
orang-orang mulai datang. Para tokoh berkumpul. Mereka tidak hanya duduk untuk
menghibur keluarga. Mereka mulai memikirkan pekerjaan yang harus dilakukan.
Di sinilah nopu-hau menjadi penting. Kematian menghadirkan
pekerjaan yang tidak dapat ditunda. Lubang kubur harus disiapkan. Peti jenazah
harus tersedia. Orang-orang harus diberitahu. Tenda harus dipasang. Berbagai
kebutuhan upacara harus dipersiapkan.
Keluarga yang sedang berduka tidak mungkin mengerjakan
semuanya seorang diri. Karena itu, kedukaan melahirkan pembagian tanggung jawab.
Ada yang menggali kubur. Ada yang mengurus peti. Ada yang menjadi haef,
membawa kabar kepada keluarga jauh dan kampung tetangga. Ada yang menyiapkan
tenda. Ada yang mengatur perlengkapan. Ada yang mengolah makanan. Ada yang
membantu melayani orang-orang yang datang.
Dengan demikian, masyarakat tidak hanya hadir sebagai
penonton atas penderitaan sebuah keluarga. Mereka masuk ke dalam pekerjaan yang
lahir dari penderitaan itu. Kematian seorang anggota keluarga menjadi urusan
sosial. Namun, ada satu hal yang sering luput dari perhatian ketika kita
berbicara mengenai upacara kematian: orang yang berduka tetap membutuhkan makan.
Tangisan tidak menghilangkan rasa lapar. Kesedihan
tidak membuat tubuh berhenti membutuhkan makanan. Bahkan ketika banyak orang
datang dari jauh untuk mengikuti subat, kebutuhan konsumsi menjadi bagian
penting dari pelayanan terhadap mereka. Di sinilah sisa’en too mfaun
memperoleh kedalaman maknanya.
Membubarkan banyak orang bukan berarti mengusir mereka
dari rumah duka. Sebaliknya, dalam konteks ini, ada suatu tanggung jawab untuk
memastikan bahwa orang-orang yang datang telah dilayani dengan baik sebelum
mereka kembali.
Ada sesuatu yang sangat manusiawi di dalamnya. Orang
datang karena kehilangan seseorang. Mereka datang untuk menangis, mengenang,
berdoa, membantu, dan menyatakan solidaritas. Setelah seluruh rangkaian
selesai, mereka perlu kembali ke rumah masing-masing. Tetapi sebelum pulang,
mereka tidak dibiarkan pergi tanpa diperhatikan kebutuhan dasarnya. Makanan
menjadi bahasa keramahan di tengah kedukaan. Karena itu, konsumsi dalam suasana
kematian tidak semestinya dipahami hanya sebagai persoalan makan-minum. Ia
merupakan bagian dari mekanisme sosial untuk menjaga agar banyak orang yang
hadir tetap dapat menjalankan perannya selama masa berkabung.
Menariknya, pekerjaan itu tidak hanya dibebankan
kepada keluarga duka. Keluarga duka menyediakan sesuai kemampuannya. Keluarga
dekat memberikan sokongan. Masyarakat membantu mengolah dan melayani. Pemangku
adat, lembaga kemasyarakatan, dan perangkat pemerintah kampung ikut
memobilisasi tenaga dan perlengkapan. Di sini tampak sebuah prinsip sosial yang
sederhana tetapi kuat: ketika keluarga sedang kehilangan tenaga karena duka,
masyarakat meminjamkan tenaga mereka.Keluarga yang kehilangan seseorang mungkin
tidak sanggup memikirkan semuanya. Karena itu, komunitas mengambil sebagian
pekerjaan dari pundaknya. Duka pribadi kemudian ditopang oleh solidaritas
sosial.
Rangkaian kurut-kaet ~ nopu-hau ~ sisa’en too mfaun
memperlihatkan perubahan dari satu keadaan ke keadaan lainnya. Mula-mula ada suara:
ratap dan tangis. Kemudian ada pekerjaan: menggali lubang dan menyiapkan peti. Sesudah
itu ada pelayanan: memastikan banyak orang yang datang dapat makan dan kemudian
kembali ke tempat masing-masing. Dari suara menuju pekerjaan, dari pekerjaan
menuju pelayanan.
Itulah salah satu pembacaan sosiokultural yang dapat
ditarik dari ketiga istilah tersebut. Kematian memang memisahkan seseorang dari
kehidupan duniawi. Tetapi dalam pengalaman sosial masyarakat, kematian juga
memperlihatkan bagaimana manusia yang masih hidup saling membutuhkan.
Seseorang meninggal, tetapi hubungan sosial tidak ikut
mati. Keluarga datang. Saudara datang. Tetangga datang. Kampung datang. Mereka
membawa tangan untuk bekerja, kaki untuk berjalan, suara untuk menyampaikan
berita, dan bahan makanan untuk menopang mereka yang hadir.
Barangkali di situlah salah satu kebijaksanaan paling dalam dari
kehidupan komunal: manusia tidak selalu mampu mengurangi rasa kehilangan orang
lain, tetapi manusia dapat membantu agar orang yang kehilangan tidak menanggung
seluruh bebannya sendirian.
Kita tidak dapat mengembalikan orang yang telah pergi.
Kita tidak dapat membatalkan kematian. Tetapi kita dapat menggali lubang kubur.
Kita dapat menyiapkan peti. Kita dapat membawa kabar kepada keluarga yang jauh.
Kita dapat mendirikan tenda. Kita dapat memasak. Kita dapat menyediakan
makanan. Kita dapat duduk bersama orang yang sedang menangis.
Dan mungkin, dalam semua itu, masyarakat sedang
mengatakan tanpa banyak kata: “Kami tidak dapat menggantikan orang yang telah
pergi, tetapi kami tidak akan meninggalkanmu sendirian menghadapi
kepergiannya.”
D. Nilai Kebijaksanaan
Dari kurut-kaet ~ nopu-hau ~ sisa’en too mfaun, dapat dibaca
beberapa nilai kebijaksanaan.
Pertama, duka adalah pengalaman manusia yang perlu
diberi ruang.
Tangisan bukan sesuatu yang harus selalu disembunyikan. Kurut-kaet menunjukkan
bahwa kesedihan memiliki tempat dalam kehidupan sosial.
Kedua, kedukaan membutuhkan solidaritas. Keluarga yang
berduka tidak dibiarkan mengurus semuanya sendiri. Masyarakat hadir dengan
tenaga, waktu, dan keterampilan.
Ketiga, pekerjaan bersama adalah bentuk belas kasih. Menggali
kubur, menyiapkan peti, mendirikan tenda, memasak, dan mengurus berbagai
kebutuhan bukan sekadar pekerjaan teknis. Dalam konteks kedukaan, pekerjaan itu
menjadi bentuk nyata kepedulian.
Keempat, berita duka mengaktifkan jaringan
kekerabatan. Kehadiran haef memperlihatkan bahwa hubungan keluarga dan
hubungan antarkampung memiliki peranan penting dalam menghadirkan orang-orang
yang perlu mengetahui dan ikut mengambil bagian dalam kedukaan.
Kelima, keramahan tetap hidup di tengah kesedihan. Melalui
sisa’en too mfaun, kebutuhan makan banyak orang menjadi bagian dari
tanggung jawab sosial. Orang yang datang untuk berduka cita tetap diperlakukan
sebagai sesama yang harus dihormati.
Keenam, komunitas bukan hanya tempat berbagi
kegembiraan. Komunitas justru memperlihatkan kekuatannya ketika salah satu
anggotanya mengalami kehilangan. Pada saat pesta, orang berkumpul karena
sukacita; pada saat kematian, orang berkumpul karena duka. Keduanya
memperlihatkan bahwa kehidupan bersama dibangun oleh kesediaan untuk hadir
dalam berbagai musim kehidupan.
Pada akhirnya, ketiga istilah tersebut dapat dibaca sebagai sebuah
rangkaian kebijaksanaan: menangislah ketika kehilangan, bekerjalah ketika
dibutuhkan, dan layanilah mereka yang hadir. Sebab kedukaan yang dipikul
bersama tidak serta-merta menjadi ringan, tetapi setidaknya seseorang tidak
perlu memikulnya sendirian.
“Kita tidak
mampu menahan kematian agar tidak datang; tetapi kita dapat menahan seorang
yang berduka agar tidak jatuh sendirian. Sebab ketika satu rumah kehilangan,
seluruh kampung belajar menjadi keluarga.”

Komentar
Posting Komentar