Kurut-Kaet, Nopu-Hau, Sisa'en too Mfaun

 

Kematian datang, tangis merebak, tetangga merapat, para tokoh berdiskusi. Keluarga dekat dan jauh menangisi jenazah, para tokoh menata pelayanan hingga upacara penguburan. Itulah suasana dan nuansa ketika kematian menerpa. Ada tangisan, namun ada kerja bersama, solidaritas tetap terjaga, kerekatan komunitas tiada terhapuskan. Maka, ketika kematian menerpa, suasananya menjadi tanggung jawab bersama.


ilustrasi suasana ketika ada kedukaan pada kalangan masyarakat Atoin Meto'
Gambar ilustrasi oleh ChatGPT

A. Etimologi

Kurut-kaet berarti ratap dan tangis. Istilah ini digunakan dalam suasana kematian atau kedukaan, ketika keluarga batih, keluarga dekat, dan keluarga jauh menangisi orang yang telah meninggal. Dalam suasana itu, tangisan bukan hanya ungkapan kesedihan pribadi, melainkan juga menjadi suara yang terdengar di luar rumah duka dan diketahui oleh lingkungan sekitarnya.

Dalam konteks ini dikenal pula ungkapan nsiun ma nain, yakni tangisan yang disertai cerita atau ungkapan mengenai orang yang telah meninggal. Tangisan tersebut bukan semata-mata suara kesedihan, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenang dan menceritakan kehidupan orang yang telah pergi.

Nopu-hau berarti lubang kubur dan peti jenazah. Istilah ini menunjuk pada dua kebutuhan pokok dalam persiapan penguburan: menyiapkan tempat di mana jasad akan dimakamkan dan menyiapkan peti jenazah. Karena itu, ketika para tokoh dan masyarakat mulai datang ke rumah duka, salah satu perhatian utama mereka adalah urusan nopu-hau.

Sementara itu, sisa’en too mfaun berarti membubarkan banyak orang. Dalam konteks kematian, ungkapan ini berhubungan erat dengan penyediaan konsumsi bagi banyak orang yang datang untuk menyatakan duka cita dan mengikuti rangkaian upacara penguburan.

Ketiga istilah tersebut dengan demikian berada dalam satu rangkaian pengalaman: kurut-kaet sebagai ungkapan duka, nopu-hau sebagai pekerjaan yang harus diselesaikan untuk penguburan, dan sisa’en too mfaun sebagai bagian dari tanggung jawab terhadap orang banyak yang hadir dalam kedukaan.

B. Konteks Budaya

Kematian seseorang dalam masyarakat Pah Amarasi tidak hanya menjadi peristiwa yang dialami oleh keluarga inti. Ketika seseorang meninggal, keluarga batih, keluarga dekat, keluarga jauh, tetangga, dan masyarakat kampung masuk ke dalam sebuah ruang sosial yang sama: ruang kedukaan.

Tangisan keluarga menjadi tanda pertama yang mengabarkan bahwa telah terjadi kematian. Keluarga seakan-akan “terkurung” (kurut/nkuur) dalam rumah karena duka yang begitu dalam. Tangisan mereka dapat berlangsung dengan kuat dan terdengar sampai ke lingkungan sekitar. Dari suara itulah berita kematian mulai bergerak dari satu rumah ke rumah lainnya.

Tangisan menjadi semacam bahasa sosial kedukaan. Ketika tetangga mendengarnya, kabar diteruskan kepada para tokoh. Para tokoh kemudian datang dan bersama-sama memikirkan apa yang harus dilakukan.

Salah satu urusan pokok adalah nopu-hau. Lubang kubur perlu digali dan peti jenazah perlu disiapkan. Pekerjaan ini tidak dibiarkan menjadi beban keluarga yang sedang berduka. Masyarakat mengambil bagian dalam pekerjaan yang harus segera diselesaikan.

Di samping itu, beberapa orang diutus untuk membawa berita duka cita kepada keluarga jauh dan kampung tetangga. Utusan tersebut disebut haef. Kehadiran haef memperlihatkan bahwa berita kematian perlu disampaikan melalui hubungan kekerabatan dan jaringan sosial yang telah dibangun jauh sebelum kematian terjadi.

Para tokoh yang dipercaya kemudian memobilisasi masyarakat untuk menyiapkan tenda dan berbagai perlengkapan yang diperlukan bagi pelaksanaan subat, yaitu upacara penguburan. Ketika masa berkabung berlangsung, keluarga jauh dan masyarakat dari kampung tetangga berdatangan. Rumah duka dan lingkungan sekitarnya menjadi tempat perjumpaan banyak orang. Karena banyak orang hadir, kebutuhan konsumsi pun menjadi bagian penting dari penyelenggaraan kedukaan.

Konsumsi disiapkan oleh keluarga duka dengan dukungan keluarga dekat. Pengolahannya dilakukan bersama oleh masyarakat yang dimobilisasi melalui pemangku adat, lembaga kemasyarakatan, dan perangkat pemerintah kampung. Semua itu dilakukan agar selama rangkaian subat berlangsung, orang-orang yang datang untuk berduka cita tetap mendapatkan makanan dan minuman yang layak.

Dalam konteks inilah ungkapan sisa’en too mfaun memperoleh tempatnya. Banyak orang datang karena kedukaan, dan banyak orang pula harus dilayani. Setelah seluruh rangkaian selesai, mereka diharapkan dapat kembali ke rumah masing-masing dalam keadaan telah menerima konsumsi.

C. Ketika Tangisan Menjadi Berita dan Kedukaan Menjadi Kerja Bersama

Kematian membuat sebuah rumah tiba-tiba berubah. Rumah yang biasanya dipenuhi percakapan sehari-hari menjadi rumah yang dipenuhi tangisan. Suara orang berbicara berubah menjadi suara ratapan. Langkah kaki yang biasanya datang membawa urusan masing-masing kini datang membawa kesediaan untuk berbagi duka.

Di situlah kurut-kaet menemukan maknanya. Ratap dan tangis bukan sekadar ekspresi kesedihan. Dalam kehidupan sosial masyarakat, tangisan itu dapat menjadi tanda yang mengabarkan bahwa seseorang telah meninggal. Ia keluar dari ruang keluarga, menembus dinding rumah, terdengar oleh tetangga, lalu menjadi berita yang bergerak dari satu orang kepada orang lain.

Tangisan menjadi bahasa pertama kedukaan. Tetapi kedukaan tidak berhenti pada tangisan. Ketika kabar telah diketahui, orang-orang mulai datang. Para tokoh berkumpul. Mereka tidak hanya duduk untuk menghibur keluarga. Mereka mulai memikirkan pekerjaan yang harus dilakukan.

Di sinilah nopu-hau menjadi penting. Kematian menghadirkan pekerjaan yang tidak dapat ditunda. Lubang kubur harus disiapkan. Peti jenazah harus tersedia. Orang-orang harus diberitahu. Tenda harus dipasang. Berbagai kebutuhan upacara harus dipersiapkan.

Keluarga yang sedang berduka tidak mungkin mengerjakan semuanya seorang diri. Karena itu, kedukaan melahirkan pembagian tanggung jawab. Ada yang menggali kubur. Ada yang mengurus peti. Ada yang menjadi haef, membawa kabar kepada keluarga jauh dan kampung tetangga. Ada yang menyiapkan tenda. Ada yang mengatur perlengkapan. Ada yang mengolah makanan. Ada yang membantu melayani orang-orang yang datang.

Dengan demikian, masyarakat tidak hanya hadir sebagai penonton atas penderitaan sebuah keluarga. Mereka masuk ke dalam pekerjaan yang lahir dari penderitaan itu. Kematian seorang anggota keluarga menjadi urusan sosial. Namun, ada satu hal yang sering luput dari perhatian ketika kita berbicara mengenai upacara kematian: orang yang berduka tetap membutuhkan makan.

Tangisan tidak menghilangkan rasa lapar. Kesedihan tidak membuat tubuh berhenti membutuhkan makanan. Bahkan ketika banyak orang datang dari jauh untuk mengikuti subat, kebutuhan konsumsi menjadi bagian penting dari pelayanan terhadap mereka. Di sinilah sisa’en too mfaun memperoleh kedalaman maknanya.

Membubarkan banyak orang bukan berarti mengusir mereka dari rumah duka. Sebaliknya, dalam konteks ini, ada suatu tanggung jawab untuk memastikan bahwa orang-orang yang datang telah dilayani dengan baik sebelum mereka kembali.

Ada sesuatu yang sangat manusiawi di dalamnya. Orang datang karena kehilangan seseorang. Mereka datang untuk menangis, mengenang, berdoa, membantu, dan menyatakan solidaritas. Setelah seluruh rangkaian selesai, mereka perlu kembali ke rumah masing-masing. Tetapi sebelum pulang, mereka tidak dibiarkan pergi tanpa diperhatikan kebutuhan dasarnya. Makanan menjadi bahasa keramahan di tengah kedukaan. Karena itu, konsumsi dalam suasana kematian tidak semestinya dipahami hanya sebagai persoalan makan-minum. Ia merupakan bagian dari mekanisme sosial untuk menjaga agar banyak orang yang hadir tetap dapat menjalankan perannya selama masa berkabung.

Menariknya, pekerjaan itu tidak hanya dibebankan kepada keluarga duka. Keluarga duka menyediakan sesuai kemampuannya. Keluarga dekat memberikan sokongan. Masyarakat membantu mengolah dan melayani. Pemangku adat, lembaga kemasyarakatan, dan perangkat pemerintah kampung ikut memobilisasi tenaga dan perlengkapan. Di sini tampak sebuah prinsip sosial yang sederhana tetapi kuat: ketika keluarga sedang kehilangan tenaga karena duka, masyarakat meminjamkan tenaga mereka.Keluarga yang kehilangan seseorang mungkin tidak sanggup memikirkan semuanya. Karena itu, komunitas mengambil sebagian pekerjaan dari pundaknya. Duka pribadi kemudian ditopang oleh solidaritas sosial.

Rangkaian kurut-kaet ~ nopu-hau ~ sisa’en too mfaun memperlihatkan perubahan dari satu keadaan ke keadaan lainnya. Mula-mula ada suara: ratap dan tangis. Kemudian ada pekerjaan: menggali lubang dan menyiapkan peti. Sesudah itu ada pelayanan: memastikan banyak orang yang datang dapat makan dan kemudian kembali ke tempat masing-masing. Dari suara menuju pekerjaan, dari pekerjaan menuju pelayanan.

Itulah salah satu pembacaan sosiokultural yang dapat ditarik dari ketiga istilah tersebut. Kematian memang memisahkan seseorang dari kehidupan duniawi. Tetapi dalam pengalaman sosial masyarakat, kematian juga memperlihatkan bagaimana manusia yang masih hidup saling membutuhkan.

Seseorang meninggal, tetapi hubungan sosial tidak ikut mati. Keluarga datang. Saudara datang. Tetangga datang. Kampung datang. Mereka membawa tangan untuk bekerja, kaki untuk berjalan, suara untuk menyampaikan berita, dan bahan makanan untuk menopang mereka yang hadir.

Barangkali di situlah salah satu kebijaksanaan paling dalam dari kehidupan komunal: manusia tidak selalu mampu mengurangi rasa kehilangan orang lain, tetapi manusia dapat membantu agar orang yang kehilangan tidak menanggung seluruh bebannya sendirian.

Kita tidak dapat mengembalikan orang yang telah pergi. Kita tidak dapat membatalkan kematian. Tetapi kita dapat menggali lubang kubur. Kita dapat menyiapkan peti. Kita dapat membawa kabar kepada keluarga yang jauh. Kita dapat mendirikan tenda. Kita dapat memasak. Kita dapat menyediakan makanan. Kita dapat duduk bersama orang yang sedang menangis.

Dan mungkin, dalam semua itu, masyarakat sedang mengatakan tanpa banyak kata: “Kami tidak dapat menggantikan orang yang telah pergi, tetapi kami tidak akan meninggalkanmu sendirian menghadapi kepergiannya.”

D. Nilai Kebijaksanaan

Dari kurut-kaet ~ nopu-hau ~ sisa’en too mfaun, dapat dibaca beberapa nilai kebijaksanaan.

Pertama, duka adalah pengalaman manusia yang perlu diberi ruang.
Tangisan bukan sesuatu yang harus selalu disembunyikan. Kurut-kaet menunjukkan bahwa kesedihan memiliki tempat dalam kehidupan sosial.

Kedua, kedukaan membutuhkan solidaritas. Keluarga yang berduka tidak dibiarkan mengurus semuanya sendiri. Masyarakat hadir dengan tenaga, waktu, dan keterampilan.

Ketiga, pekerjaan bersama adalah bentuk belas kasih. Menggali kubur, menyiapkan peti, mendirikan tenda, memasak, dan mengurus berbagai kebutuhan bukan sekadar pekerjaan teknis. Dalam konteks kedukaan, pekerjaan itu menjadi bentuk nyata kepedulian.

Keempat, berita duka mengaktifkan jaringan kekerabatan. Kehadiran haef memperlihatkan bahwa hubungan keluarga dan hubungan antarkampung memiliki peranan penting dalam menghadirkan orang-orang yang perlu mengetahui dan ikut mengambil bagian dalam kedukaan.

Kelima, keramahan tetap hidup di tengah kesedihan. Melalui sisa’en too mfaun, kebutuhan makan banyak orang menjadi bagian dari tanggung jawab sosial. Orang yang datang untuk berduka cita tetap diperlakukan sebagai sesama yang harus dihormati.

Keenam, komunitas bukan hanya tempat berbagi kegembiraan. Komunitas justru memperlihatkan kekuatannya ketika salah satu anggotanya mengalami kehilangan. Pada saat pesta, orang berkumpul karena sukacita; pada saat kematian, orang berkumpul karena duka. Keduanya memperlihatkan bahwa kehidupan bersama dibangun oleh kesediaan untuk hadir dalam berbagai musim kehidupan.

Pada akhirnya, ketiga istilah tersebut dapat dibaca sebagai sebuah rangkaian kebijaksanaan: menangislah ketika kehilangan, bekerjalah ketika dibutuhkan, dan layanilah mereka yang hadir. Sebab kedukaan yang dipikul bersama tidak serta-merta menjadi ringan, tetapi setidaknya seseorang tidak perlu memikulnya sendirian.

“Kita tidak mampu menahan kematian agar tidak datang; tetapi kita dapat menahan seorang yang berduka agar tidak jatuh sendirian. Sebab ketika satu rumah kehilangan, seluruh kampung belajar menjadi keluarga.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Natu' Pilu', metode pewarisan budaya pada masyarakat Pah Binoni Amfo'an

Musik dan Tari dalam Liturgi Ibadah

Peniti, Bawang Putih, Genoak, antara Mitos, Pengetahuan dan Kepercayaan