"Cinta" Pemuda GMIT (Klasis Amarasi Timur) dalam Balutan Budaya Atoin Meto'
“Cinta” Pemuda GMIT (Klasis
Amarasi Timur) dalam Balutan Budaya Atoin’ Meto’[1]
- Pengantar
Pada tempat prioritas saya mesti
bersyukur dan berterima kasih bertadah tangan pada Yesus Kristus Tuhan, Pemilik
dan Kepala Gereja. Dia telah menyodorkan pada saya dan kita semua yang hadir
dalam kegiatan yang dihelat oleh para muda Klasis Amarasi Timur ini. (Apakah
para muda perlu rasa terima kasih dari saya? Akh… nanti dengarkan (baca) saja,
setelah ini. ha ha …).
Saya mau sampaikan pada pengantar
ini bahwa, sesungguhnya para muda Klasis Amarasi Timur melalui Panitia
Perkemahan ini, telah menyampaikan satu tema teramat besar, luas dan dalam
untuk dibahas hanya dalam tempo sesingkat ini. Tema yang dimaksudkan itu adalah,
Gereja dan Budaya. Kita bisa saja berbicara dan mendiskusikannya, saling
berbagi di dalamnya, namun kita tidak akan pernah habis-habisnya. Itulah
sebabnya, saya mencoba menyempitkan agar kita tidak terjebak dalam diskusi yang
menjadikan kita orang-orang yang keluar dari konteks diri kita sendiri. Lalu,
saya gunakan judul, Gereja Masehi Injili di Timor dalam Balutan Budaya
Atoin’ Meto’.
Apakah judul yang demikian akan
terasa sudah semakin dekat dengan diri para muda di Klasis Amarasi Timur?
Kiranya tulisan ini dan pembahasannya dalam pertemuan ilmiah para muda Klasis
Amarasi Timur ini, berdampak pada kecintaan pada gereja dan budayanya sendiri
serta pada puncak kecintaannya itu, para muda memuliakan Tuhan di dalam Yesus
Kristus, sang Hikmat nan Al-Kalam itu sendiri.
- Mengapa Cinta (kasih)?
Segala sesuatu yang terjadi pada
manusia sejak penciptaan, semuanya terjadi karena kasih (atau cinta dan
sayangnya) Tuhan kepada kita. Tuhan mengasihi kita, Ia telah lebih dahulu
mengasihi kita. Oleh sebab itu, kepada kita Ia memberikan kasih-Nya yang besar
dan tak terbatas itu agar kita saling mengasihi, dan terlelebih mengasihi Dia
Sumber cinta (kasih dan saying) itu.
Dari cinta yang di dalamnya
terkandung beragam nilai, keindahan, kemesraan, kehormatan, kemuliaan, pujian,
syukur, terima kasih, dan banyak hal terkandung di dalamnya. Maka tidak heran
jika Yesus dalam pengajaran-Nya menempatkan Hukum yang terutama itu pada Kasih
(Cinta dan Sayang, Love, Manekat; Mat.22:37-40; Mrk 12:28-34; Luk.10:25-28, dan
Ul.6). Bacalah surat cinta Tuhanmu setiap hari. Kamu akan semakin mencintai dan
dicintai-Nya.
- Siapakah GMIT?
GMIT. Siapapun langsung
mengetahui dan dapat memberikan jawaban atas pertanyaan, apa itu GMIT?
Jawabannya, Gereja Masehi Injili di Timor. Itu jawaban anak PAUD di Koro’oto
atau di semua PAUD yang dikelola Jemaat-Jemaat Klasis Amarasi Timur. Mengapa
begitu? Karena jawaban itu hanyalah memanjangkan akronim GMIT, bukan memberikan
penjelasan tentang apa itu GMIT?
Nah, bagaimana kalau orang
bertanya, siapakah GMIT? Lalu orang akan memberikan jawaban, Gereja
Masehi Injili di Timor? Jawaban seperti ini menurunkan kelas dari orang yang
menjawabnya. Mengapa? Karena mestinya orang sudah harus memahami siapa GMIT,
bukan hanya ingat akronim GMIT dan kepanjangannya.
Jadi, ketika memberikan
penjelasan dengan menjawab pertanyaan siapakan GMIT, artinya orang yang
memberikan jawaban itu, mestilah orang-orang yang sudah sadar tentang GMIT itu
sendiri sebagai “sesuatu”. “Sesuatu” itulah yang akan kita ketahui di sini.
Bila kita personifikasikan GMIT,
maka dia merupakan seseorang yang organ-organya dikandung di dalam rahim Tana
Timor sebelum akhirnya dilahirkan sebagai organisasi gereja. Sejarah dan ziarah
yang melahirkan organisasi gereja yang pada akhirnya disebut Gereja Masehi
Injili di Timor, panjangnya tidak dapat diceritakan dalam waktu singkat dalam
satu relasi berseminar ini. Bila mencermati catatan Frank Colley dalam Benih
Yang Tumbuh XI (1976)[2] masa-masa
itu dimulai dan bersumber dari Gereja di Nederland-Belanda, sehingga kita dapat
saja secara mudah mengatakan, GMIT itu berafiliasi dengan gereja di
Belanda. Tapi, apakah begitu? Jawabannya, tidak serta merta begitu. Bahwa, bila
ada masa berpacaran gaya para muda, maka ada pra gereja, yaitu ketika Portugis
tiba membawa “Benih Cinta Tuhan” (1556-1613). Selanjutnya para zending
dalam Oud Hollandsche Zending (OHZ, 1614-1819), dan Nederlandsche
Zendeling Genoostschap (NZG, 1814-1860), serta Indische
Kerk (1860-1942), merekalah yang dapat disebutkan sebagai organisasi
penginjilan dan gereja yang “menyiapkan” orang Timor untuk mandiri dalam
kehidupan bergereja. Hari ini anda dapat membaca sejarah GMIT secara elektronik[3].
Simpulan sementara yang sederhana
gaya para muda, sesungguhnya yang mau menjadikan penghuni Tana Timor menjadi
murid Kristus bukan tiga atau empat fase para misionaris dan zending, tetapi
Yesus Kristus yang mencintai orang Timor (Atoin’ Meto’). Orang-orang yang ada dalam
empat fase sejarah dan ziarah menanamkan Benih Cinta Tuhan itu, hanyalah
kaki-tangan Tuhan (haef-nimaf Uisneno) yang menjalankan Amanat Agung
Yesus Kristus, “… Pergilah! Jadikanlah segala bangsa murid-ku,
baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus, ajarlah mereka … .” (Matius
28: 19-20). Teks Matius 28:19-20 dalam Uab Amarasi berbunyi demikian, “Onaim
hi mnao meu mee-mee jah ate, hi ro he mitoon Au Rais Reko meu pah-pah ma
uuf-uuf ein ok-oke’. Hi ro he minoni’ sin rek-reko, maut he sin njarin Au atoup
noin’ ein. Ma hi ro he misrain sin he njarin tanar nak, sin nmafutun nrarin nok
Ama’ Uisneno, ma In Anah, ma In Asmaan Akninu’. Ma minoni’ sin he nmo’en natuin
are’ preent ein ok-oke’ re’ Au utoon a’rair ki sin. … .”
Kembali ke istilah personifikasi,
jika GMIT ini orang, maka Tana Timor (Pah Meto’) laksana gadis
manis yang hendak dijadikan isteri tercinta agar dari dalam kandungannya yang
subur di sana “Benih Cinta Tuhan” dibenamkan. Di sana ada tangan-tangan yang
menyiapkannya, yaitu Misionaris Portugis yang melahirkan Gereja Katolik di
Timor dan sekitarnya, OHZ, NZG, dan IK, yang kelihatannya berbeda tapi satu
tujuan, yaitu pemuridan orang-orang Timor (Atoin’ Meto’) menjadi
murid-murid Kristus sesuai Amanat Agung Yesus Kristus itu.
Ketika para misionaris dan
zending “meninggalkan” Pah Meto’, itu bukan karena faktor gagal dalam
percintaan. Saya hendak memastikan sebagai orang beriman, bahwa, Yesus Kristus
telah mengizinkan mereka pulang oleh karena kandungan Pah Meto’ telah siap melahirkan
satu organisasi gereja yang disebut Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), yang
semestinya lahir pada tahun 1942, akan tetapi ada satu situasi dimana ada
penggoda lain yang menyebabkan kaki-tangan Yesus Kristus kembali ke negerinya.
Hal ini tidak berarti Benih Cinta Tuhan mereka bawa pulang. Justru Benih itu
mulai berkecambah, dimana antara 1942 – 1945 dan klimaksnya pada 1947, di sana
adalah masa-masa menjelang kelahiran yang mendebarkan.
Bukankah kelahiran seorang bayi
yang ditunggu-tunggu itu, mendebarkan? Ya. Jemaat-jemaat sudah ada ketika itu,
Indische Kerk sebagai organisasi keagamaan negara, dibentuk 1817 berkedudukan
di Batavia, telah membentuk jemaat-jemaat di seluruh wilayah nusantara, dimana
Timor dan pulau-pulaunya termasuk di dalamnya. Masa-masa penginjilan dan
pembentukan jemaat-jemaat yang pada akhirnya tergabung dalam organisasi
keagamaan yang diakui negara, yaitu Gereja di Timor yang persiapannya telah
dimulai sejak 1933. Pada masa itu, Indische Kerk memutuskan untuk membentuk tiga
organisasi gereja, yaitu Gereja Masehi Injili Minahasa, Gereja Protestan Maluku
dan Gereja Timor. Dua gereja yang pertama berhasil terlebih dahulu dibentuk,
sementara Gereja di Timor baru berhasil dibentuk (lahir) pada tanggal 31
Oktober 1947.
Benih Cinta Tuhan yang ditanamkan
lewat “percintaan” dengan gadis manis bernama Atoin’ Meto’ (orang Timor) di Pah
Meto’ (Tana Timor) dan pulau-pulaunya tidak bertepuk sebelah tangan. GMIT
akhirnya lahir menjadi satu organisasi gereja sejak 1947 dan terus bertumbuh hingga
saat ini. Seluruh cinta yang diberikan oleh Pecinta Sejati, Yesus Kristus telah
membalut Atoin’ Meto’ hingga saat ini. Dalam konteks itu, maka Atoin’ Meto’ pun
mulai bergeliat budayanya. Saya hendak menamainya sebagai Budaya
Berjalur Abu-abu.
Untaian pengurai di atas belum
sepenuhnya menjawab pertanyaan, siapakah GMIT? GMIT,
sebagai organisasi keagamaan di Indonesia, telah mengalami pertumbuhan dan
perkembangan sejak berdirinya. Sebagai organisasi gereja, para presbiter
(Yun: presbuteros) sebagai pemimpinnya. GMIT memberlakukan
jabatan gerejawi, yaitu: pendeta, penatua, dan diaken (syamas). Dalam
perkembangan selanjutya, menurut Tata Gereja[4] yang
menjadi landasan aturan di seluruh lingkup layanan GMIT. Tata Gereja GMIT
telah mengalami delapan kali perubahan sejak 1949: 1) Peratoeran Geredja Masehi
Indjili di Timor 1949, 2) Tata Gereja GMIT 1952, 3) Tata Gereja GMIT 1958, 4)
Tata Gereja GMIT 1970, 5) Tata Gereja GMIT 1973, 6) Tata Gereja GMIT 1987, 7)
Tata Gereja GMIT 1999, dan 8) Tata Gereja GMIT 2010.
Dari keseluruhan Tata Gereja yang
dipakai itu melahirkan fungsi-fungsi kelembagaan di dalamnya, baik yang
organisatoris maupun fungsional. Pendeta, Penatua, Diaken, dan Pengajar, adalah
empat tugas dan sekaligus fungsi yang disematkan pada orang-orang terdidik dan
terpilih. Pada orang-orang terdidik dan terpilih inilah, dilakukan penjaringan,
penyaringan dan pemilihan untuk menempati organ-organ pelayanan, seperti
Majelis Jemaat, Majelis Klasis, dan Majelis Sinode. Masing-masing organ
pelayanan ini terdapat sejumlah sub-organ sebagai satu kesatuan yang
kait-mengait menjunjung pelayanan itu sendiri yang berbasis di jemaat.
Organ-organ lain yang boleh
disebut sayap organisasi GMIT sebagai “tangan pelayanan” seperti: Universitas
Kristen Artha Wacana Kupang (dalam kerjasama dengan GKS), Yayasan Alfa Omega,
Yapenkris, dan UBB[5].
Dalam Ketetapan SInode GMIT Nomor
03/Tap/Sin-GMIT/XXXIII/2015 tentang Perubahan Pertama atas Ketetapan Sinode
GMIT No. 1/Tap/SSI-GMIT/II/2010 tentang Pokok-pokok Eklesiologi GMIT[6],
GMIT memahami diri sebagai gereja berhubungan dengan kehadirannya di tengah
dunia. Gereja dipanggil dan dikuduskan menjadi milik Allah bukan untuk dirinya
sendiri, melainkan untuk mewujudkan karya penyelamatan Allah bagi dunia
(peranan soteriologis). Rumusan pemahaman diri ini
diharapkan akan menolong GMIT untuk melaksanakan panggilannya sebagai garam dan
terang dunia. Dasar GMIT adalah Allah Tritunggal, yakni Allah yang menciptakan
langit dan bumi, yang menyelamatkan dunia dan segala isinya dalam Yesus Kristus
dan yang terus memelihara dan merawat seluruh ciptaan-Nya dalam Roh Kudus (bnd.
Ef. 2:19-20). Dasar ini mengantar GMIT kepada pengakuan bahwa Yesus Kristus
adalah Juruslamat dunia (bnd. 1Kor.3:11). Berlandaskan konsep Allah Tritunggal,
GMIT mengemban tugas untuk menghadirkan tanda-tanda Kerajaan Allah, yakni
mewujudnyatakan keselamatan Allah bagi dunia dan manusia.
Dari aspek geografis, wilayah
pelayanan meliputi Pulau Timor (bagian Barat), Rote, Sabu, Kepulauan Alor,
Flores, dan Sumbawa. Etnis dan entitas yang berbeda, di sana para presbiter
melayari selat dan tanjung, mendaki bukit menuruni lembah, menyeberangi sungai,
melintasi dan padang sabana. Di sana mereka bersua dengan mata air dan
air mata. Di dataran yang lain ada lahan basah dan lahan kering.Di pesisir
sana, ada samudera menghentak, dan laut dangkal menghanyutkan.
Para presibiter, bila menghendaki
sejuknya hembusan angin, mungkin harus menciptakan suasananya, jika tidak ingin
diterpa badai. Bila mengharapkan ikan besar, patutlah memancing dengan umpan
yang tepat, atau tidak harus membuang pukat ketika gelombang laut bergulung
tinggi berulang tinggi, jika tak ingin menjaring kesia-siaan dan ditimpa
penenggelaman. Bila hendak mendapatkan domba berbaris, mungkin harus melepas
seekor sapi. Bila mungkin hendak mendapatkan hasil ladang dan sawah, berilah mereka
hujan tepat pada waktunya.
Nah, sampai di sini untuk
memberikan sedikit pencerahan tentang siapakah GMIT?
- Atoin Meto’ Berbudaya Meto’
Bagian kedua ini saya bagi lagi
dalam dua konsep berpikir. Pertama, Siapakah Atoin’
Meto’? dan kedua, Budaya (Atoin’) Meto’ yang
sudah berada di Jalur Abu-Abu.
- Siapakah Atoin’ Meto’
Siapakah Atoin’ Meto’?
Jawabannya, orang yang sejak lahir berdiam dan beraktivitas (agama, social,
ekonomi, budaya, dan dunia sekuler lainnya) di Pah Meto’. Mereka yang demikian
inilah yang disebut Atoin’ Meto’. Namun, fakta berkata lain, ada pula yang menyebut
diri bukan Atoin’ Meto’, seperti: orang Belu yang sedaratan di Pah Meto’, tapi
tidak menyebut diri orang Timor. Mereka orang Belu (aaz: Berus). Orang etnis
lain di luar Pah Meto’, mereka tidak menyebut diri Atoin’ Meto’. Di sana ada
etnis Rote (aaz:Rotes), Ndao (aaz: Raos), Sabu (aaz:Sapus), Alor (aaz: Aros),
Jawa (aaz: Jabas), dan lain-lainnya. Simpulannya, orang yang disebut Atoin’
Meto’ akan nampak pada cirri-ciri fisik, tutur (bahasa), dan tradisi tampilan
(pakaian), dan tradisi lainnya yang telah membudaya.
- Berbudaya Meto’
Bila orang berbicara tentang
budaya, pikiran segera dipersempit pada segala produk dengan eksistensi seni (artistic)
dan adat-istiadat (custom). Bila menelusur definsi budaya seperti
kutipan berikut, budaya bukan sekedar hal seperti itu. Budaya adalah perilaku
sosial dan norma-norma yang ditemukan dalam masyarakat manusia. Budaya dianggap
sebagai konsep sentral dalam antropologi, yang mencakup berbagai fenomena yang
ditularkan melalui pembelajaran sosial dalam masyarakat. Kebudayaan universal
ditemukan di semua masyarakat; ini termasuk bentuk ekspresif seperti seni,
musik, tari, ritual dalam pengertian adat istiadat, agama, dan
teknologi seperti penggunaan alat, memasak, tempat tinggal, dan pakaian. Konsep
budaya material meliputi ekspresi fisik budaya, seperti teknologi, arsitektur
dan seni, sedangkan aspek immaterial budaya seperti prinsip organisasi sosial
(termasuk praktik organisasi politik dan lembaga sosial), mitologi, filsafat,
sastra (keduanya tertulis dan lisan), dan sains merupakan warisan budaya
non-benda dari masyarakat[7].
Kebudayaan sebagai hasil karya,
rasa dan cipta manusia yang didasarkan pada karsa[8].
Kedua definisi di atas berbeda
dengan apa yang disajikan oleh Bruce J. Malina (2011)[9],
ia memberikan penjelasan sebagai berikut: Budaya menandai daerah “kita”
terhadap “mereka”, daerah komunikasi dan berbagi secara kolektif, daerah dari
yang terbatas dan daerah yang terbuka yang terbatas dari pribadi-pribadi,
benda-benda, dan peristiwa-peristiwa yang kelompok masyarakat tertentu pegang
bersama. Budaya mengacu kepada wilayah penafsiran-penafsiran atas alam yang dimiliki
bersama dan tersendiri dari berbagai kelompok yang terbatas, dan serinkali
secara jelas dapat dibedakan dari “kita” yang ditempatkan berhadapan dengan
“mereka”.
Mengacu pada pengertian dan
uraian Malina, kita dapat menelusur masuk ke dalam dunia Atoin’ Meto’ (orang
Timor). Di sana ada berbagai bentuk ekspresif seni: musik, tari, ritual
adat-istiadat, agama, dan produk teknologi baik tradisional, semi modern, dan
modern. Di samping mitos, filsafat, seni berbicara dan lainnya, yang
membedakan Atoin’ Meto’ dengan Atoin’ bukan meto’
(atoin’ kase). Sisi Atoin’ Meto’ tidak sebangun
dengan Atoin’ Kase sekalipun mereka menghuni area yang sama.
Secara umum budaya Atoin’ Meto’
(orang Timor) nampak pada beberapa hal:
- Dunia Kepercayaan Lama (Re’u, Le’u)
Sudah menjadi pengetahuan umum
bahwa kepercayaan masyarakat Atoin’ Meto’ itu, animis, dimana
mereka percaya adanya roh di sekitar kehidupan mereka. Roh-roh itu berupa roh
para leluhur, bahkan roh dari segala sesuatu yang ada di sekitar mereka. Ketika
Injil tiba dan memberikan pencerahan, mereka meninggalkannya dengan setengah
hati[10].
Dalam kepercayaan lama, roh-roh
itu disebut usif. Roh para leluhur disebutkan sebagai sedang tinggal di balik
batu dan pepohonan, bahkan di telaga sungai, danau, laut hingga di tempat
tertinggi yaitu, langit. Semua usif dijunjung dengan ketakutan tiada taranya.
Mereka akan mencapai usif bila membawa sesajen yang ditempatkan mula-mula
di Uim Re’u.
Di halaman depan uim
re’u ditempatkan sebatang pohon yang ditanam, batangnya bercabang
tiga[11].
Ketiga cabang itu masing-masing dimaksudkan untuk menghormati roh tertinggi
yang disebut Uisneno. Cabang pertama ini lebih panjang dari cabang kedua dan
ketiga. Cabang kedua dan ketiga dimaksudkan untuk menghormati para orang tua
yang kelihatan dan pemerintah. Pada cabang kedua, selain bermakna untuk para
orang tua, sesepuh dan pinisepuh, juga disasarkan pada roh para leluhur.
- Seni Arsitektur, Umi-Ropo, Lopo
Dalam dunia arsitektur,
masyarakat Atoin’ Meto’ membangun rumah tempat tinggal sudah menjadi kebutuhan.
Dalam urusan perkawinan, (misalnya di Amarasi Raya), selalu para calong
pengantin adat akan memberikan jawaban atas pertanyaan, mengapa kamu mengumpulkan
para pemuka dan pemerintah di tempat ini, dan dalam rangka apa? (aaz: Nansaa’
am es ho mhoen ma muskau mahonit ma ana’ aprenat mbi bare ia, hi he mtao ma
mmoe’ saa’, tua? Jawabannya, kami telah memutuskan untuk hidup sebagai
suami-isteri dan hendak membangun rumah tangga. (aaz: hai mait atfeka’
he mjair fee-mone, ma he mtook umi, tua). Kata
terakhir umi tidak sekedar jawaban kosong. Umi dalam
pengertian konstruksi dan fungsi. Oleh karena itu, para pasangan suami-isteri
selalu berusaha keras untuk membangun rumah dan memiliki rumah sendiri.
Rumah pada masyarakat Atoin’
Meto’ pun digambarkan sebagai sepasang suami-isteri, yang diungkapkan
sebagai umi ma ropo[12].
Umi dimaksudkan sebagai perempuan, dan ropo sebagai
laki-laki. Konstruksinya adalah, umi kbubu’.
- Budaya Kerja (Mepu-Bain’aten)
Menurut Nuban Timo, manusia pada
terlahir dalam komunitas manapun adalah termasuk pekerja (homo labour)[13],
hal ini berlaku pula pada etnis Atoin’ Meto’. Dalam hal budaya kerja, wilayah
kerja perempuan dan lelaki dibedakan. Ada istilah nepa-nepa umi-mone’. Umi-Mone’ itulah
wilayah kerja perempuan dan lelaki.Umi, wilayah kerja perempuan
dan mone’, wilayah kerja kaum laki-laki. Berikut dua pekerjaan
pokok masyarakat Atoin’ Meto’ yang telah membudaya: futus-tenus dengan
perlengkapannya yang disebut senu-atis untuk perempuan. Etu-rene dan fafi-manu dengan
perlengkapan, suni-aunu(i)[14].
- Budaya Pergaulan (Rais Kua’nonot)
Dalam hal ini terdapat ungkapan
dan tindakan seperti:
- Ma’kero’ (saling mengajak), terjadi pada
anak-anak dan remaja
- Natefan nbin oe je ‘so’en ~ hau goe mnaitin,
masa pacaran ~ berkerabatan
- babaen – Berkerabatan
- Baat-batan ~ bergenerasi
- Perkawinan (Noon Reko-Rais Matsaos~Rais
Mafe’e-Mamone’)
Dalam hal mengurus perkawinan,
berbagai ritus seremoni dengan istilah yang berbeda-beda dan prinsip yang sama.
Ada istilah Puah-Manus, Ripa’-Oko’, Noni-Bijae. Istilah
berbeda, namun ketika seremoni dilaksanakan ada tahapan yang patut
dilwati, puah ruum-ruum – maun ruum-ruum, puah heket – maun heket, puah
prenat – manu prenat, puah kninu’ – manu kninu’. Semua istilah ini
hanya nama, namun isinya sama dan membawa pasangan pengantin adat kepada
perkawinan resmi yang disaksikan berbagai pihak.
- Kematian (Noon Re’uf~Subat)
Mengurus kematian dalam masyarakat Atoin’ Meto’, (khususnya di Amarasi Raya) dipahami sebagai wajib (prenat). Istilah yang dipakai oleh masyarakat maets ii prenat. Tugas keluarga duka, perangkat pemerintah desa, dan petugas keagamaan berbagi tugas secara pasti. Keluarga duka ada dalam kurut-kaet dan sofi, lalu menyerahkan urusan penguburan, subat kepada perangkat pemerintah desa dan lembaga keagamaan. Tugas perangkat pemerintah menyiapkan: noup paran, nopu mnanun, sisa’en too mfaun (jika keluarga duka menyediakannya), dan haef. Tugas lembaga keagamaan, ibadah penghiburan, subat, dan syukuran.
Budaya Berkesenian
- Lagu (Siit)
- Tari (Bso’ot)
- Musiik (‘Reku)
- Tutur (Aa’ asramat, verbal
art)
Keseimbangan Alam (‘Soko-Noo’)
- Oe je matan – Hau goen uun
- ‘Soko dan ‘Sako’
- Eka ‘Ho’e[15]
Budaya Berhitung
Mitos dan atau Cerita Rakyat, Reta’
- Penyakit dan Kesehatan, Menas ma Aominaf
- Iku, roh tanaman terutama padi-jagung
- Asoit, pelepas
- Mook Hitu’, Manusia Tujuh Ruas
- Cerita Rakyat penamaan satu kampung
- Pemuda GMIT Klasis Amarasi Timur dalam Budaya
Meto’
Pemuda GMIT Klasis Amarasi Timur
adalah pemuda yang eksistensinya pada hari ini sebagai Atoin’ Meto’.
Mengapa? Mereka berada di bagian selatan pulau Timor yang di dalam wilayah
administrasi pemerintah Kecamatan: Amarasi, Amarasi Selatan dan Amarasi Timur.
Semuanya[19] merupakan
orang-orang yang menyebut diri Atoin’ Meto’ dalam sub etnis
Atoin’ Nai’ Rasis. Dalam pada itu, mereka masih terbagi dalam komunitas
pengguna Uab Amarasi yang berdialek dalam Kotos, Ro’is dan Tais
Nonof. (masih ada yang disebut Ketun)
Mereka yang berada dalam gaya
dialek manapun, secara prinsip semua pola pikir, sikap dan tindak budaya Atoin’
Meto’ yang telah disebutkan di atas telah dan akan dilaksanakan sambil
“ketakutan” pada ajaran gereja. Itulah sebabnya, Budaya Atoin’ Meto’ berada di
Jalur Abu-Abu.
Penutup
Tulisan ini saya anggap sebagai
catatan-catatan lepas yang terabaikan dan terlupakan. Sifat dari tulisan in
sesungguhnya hanya untuk membangkitkan ingatan yang sedang tertidur bagai ayam
hutan, pagi bangun di sini, sore tidur di sana. Jika dia bisa berkokok atau
berkotek, itu ada tanda hidup, lalu ia mengejar makanan bagi dirinya, sambil ia
sendiri awas pada mangsanya.
Zaman ini kita hidup di dunia
yang menggila. Ada kegilaan yang disebut hedonism dan narsisme. lalu hegemoni
budaya pada masyarakat dan komunitas yang entitas dan identitasnya bila tidak
dipertahankan, akan dengan mudah digerus bagai tsunami menghantam daratan.
Maka, sebagai kaum muda gereja, janganlah mendegredasi budaya itu hanya pada
mengurus perkawinan dan tata berbusaha.
Pemuda gereja, mari menjadi:
- Jadilah orang beriman yang taat pada “budaya
alkitab” tanpa harus mem-Palestinakan, men-Yudeakan atau men-Yahudikan
Timor (Pah Meto’ dan Atoin’ Meto’).
- Mari menjadi pewujud praktik hidup positif dalam
budaya Atoin’ Meto’. Mulailah dari yang dipahami yaitu; tutur, sikap, dan
perilaku yang dapat dilihat seperti: berbusana yang rapih dan sopan,
berlaku yang sopan pada pergaulan dan lainnya.
- Penggali praktik budaya positif yang hilang dan
nilai yang terkandung di dalamnya.
- Penulis dan pewarta budaya.
- Bacalah kitab sucimu sebagai surat cinta dari
Tuhanmu.
[1] Disiapkan
dan disampaikan pada Kegiatan Musayawarah Belajar dalam Pelayanan Pemuda dipadu
Perkemahan Pemuda Klasis Amarasi Timur, 27 September 2019 di Sonafhonis
Oekabiti.
[2] Cooley
L. Frank, 1976, Benih yang Tumbuh XI, Proyek Survey
Menyeluruh DGI, Jakarta
[3] https://sinodegmit.or.id/sejarah-gmit/
[4] http://gerejalaheroituaksabu.blogspot.com/2017/04/sejarah-tata-gereja-gmit.html,
[5]Mungkin
masih ada yang lain, pasti ada dalam pengetahuan
[6] https://sinodegmit.or.id/wp-content/uploads/2019/03/4-Pokok-Pokok-Eklesiologi-GMIT.pdf
[7]http://dosensosiologi.com/pengertian-budaya/
[8] Team
Rafapustaka, 2010, Kamus Sosiologi
[9] Malina
J. Bruce, 2011, Asal-Usul Kekristenan & Antropologi Budaya,
Model-Model Praktis untuk Penafsiran Alkitab, diterjemahkan oleh
Agustinus Setiawati, BPK Gunung Mulia, Jakarta
[10]Saya
gunakan terminology setengah hati. Kita bisa diskusikan.
[11]Bani
Heronimus, https://wordpress.com/posts/ronibaniblog.home.blog
[12] Masyarakat Atoin’
Meto’ di Amarasi Raya telah menggunakan istilah umi ma
ropo,hanya sebagai ungkapan tata sopan, pada praktiknya telah
terjadi perubahan/ganti yaitu umi ‘hana ma uim ko’u. Konstruktusinya
mengikuti pola pikir para arsitektur yang dibawa dari dunia ilmu pengetahuan
(kampus).
[13] Timo
Nuban Ebenhaezer, Sidik Jari Allah dalam Budaya, Ledalero
[14]Masyarakat Atoin’
Meto’ di Amarasi Raya menggunakan istilah besi-benas
[15] Sesatonis
G., 2007, (skripsi) Eka’ Ho’e, Budaya “Membendung” Air Hujan
di Ladang Orang Amarasi
[16] Bani
Heronimus, Charles E. Grimes, 2011, (makalah) Ethno Mathematic, how
to count 400 ears in 60 second
[17] Cara
berhitung gaya Ro’is
[18] Cara
berhitung gaya Neon Saetas
[19] Walau
harus diberi catatan tambahan bahwa, para kase tidak mudah
menerima fakta bahwa mereka yang lahir di Amarasi Raya adalah Atoin’ Meto’, dan
orang Amarasi Raya yang lahir di pulau lain tetap menyebut diri sebagai Atoin’
Nai’Rasis yang adalah bagian dari Atoin’ Meto’
Komentar
Posting Komentar