Postingan

(cerpen) Ujian Akhir Norma

Gambar
UJIAN AKHIR NORMA Heronimus Bani [1] Norma telah mengikuti seluruh proses ujian akhir sekolah sampai tuntas. Sepanjang hari-hari pelaksanaan ujian, Norma sangat bergairah. Kepada sesama temannya ia tidak canggung-canggung seperti hari-hari sebelumnya. Teman-temannya terheran-heran. Ada apa dengan Norma? Ia yang dikenal pendiam, tiba-tiba menjadi periang dan sangat suka bergurau. Hari terakhir ujian telah dilewati dengan sungguh amat baik. Semua peserta ujian berbaris mendengarkan arahan kepala sekolah. Diakhiri dengan doa, mereka pun memberi salam, berjabatan tangan dan pulang dengan tertib. Para guru setelah membereskan segala hal yang berhubungan dengan catat-mencatat pada pelaksanaan ujian, mereka pun pulang. Ada yang bersepeda motor, ada pula yang berjalan kaki. Para guru tidak menyadari bahwa seseorang siswa sedang duduk di atas sebongkah batu besar di pinggir jalan. Batu besar itu tidak kelihatan karena terlindung dari bunga-bunga pagar. Siapa yang duduk di s...

Nama,Kanaf, dalam perspektif budaya Amarasi dan Konteks Alkitab

Nama, Kanaf , ( dalam Perspektif Budaya Amarasi dan Konteks Alkitab ) Heronimus Bani [1] Pengantar Beberapa waktu sebelum hari ini, saya pernah bercerita dengan Pdt. Yakob Niap, S.Th, Ketua Majelis Klasis Amarasi Timur tentang berbagai hal di sekitar kehidupan orang Amarasi Raya. Dua di antara cerita-cerita itu telah disampaikan dalam seminar atau istilah gereja (GMIT) pembinaan Majelis Jemaat (presbiter) di Klasis Amarasi Timur. Kedua materi itu adalah, Subat dan Rais Matsaos. Saya lebih condong menggunakan istilah penyegaran kepada Presbiter daripada pembinaan. Mengapa? Karena para presbiter di Klasis Amarasi Timur tentulah dominan orang Amarasi Raya, atau mereka yang datang karena tugas dan menetap dalam satuan waktu yang lama, maka dianggap pantas untuk menjadi bagian dari para presbiter di setiap Jemaat. Ketua Majelis Klasis berkeinginan pula untuk hal-hal yang sifatnya sosial kemasyarakatan di Amarasi Raya disampaikan kepada presbiter sebagai bagian dari pr...

Pergi Untuk Selamanya

Gambar
Pergi untuk Selamanya   Siapa menduga begitu cepat. Seorang guru, rekan kerja, teman, dan motivator bagi siswanya. Ia pergi meninggalkan duka yang mendalam. Ia pergi meninggalkan kesan-kesan mendalam pada keluarga, rekan, kerabat dan handai taulan. Itulah sebabnya duka menyelimuti wajah dan relung hati. Sang guru telah berjasa selama tiga puluhan tahun di Sekolah Dasar Inpres Buraen. Kenangan yang dipatri dilantunkan dalam sebait puisi Ibu… Ibu ,… Siapa menduga kabar duka, Siapa menyangka berita buruk. Ibu… Ibu… Kami mengetahui sakit ragamu, Kami menyadari keletihan tubuhmu. Ibu… Ibu … Olah pikir dan olah gerak, Rasa diraga, indah di gerai Sorak berkemenangan, Bangga berpuncak. Ibu… Ibu… Hari ini … Kami tak lagi melihatmu. Hari ini … Kami tak lagi menyapamu, Ibu… Kami melepas kepergianmu, Jasamu terkenang, Budimu terpatri, Dedikasimu mulia. Selamat jalan, ibu … Terima kasih hanyalah kata, ...