Haot-Fatis, Oe Maputu' ~ Ai Marara': Ketika Anak Kembali kepada Asal

 

Sepasang calon suami-isteri mengantar haot-fatis; oe maputu' ~ ai marara'
foto: Roni



Ada saat dalam hidup ketika seorang anak berhenti menghitung apa yang telah diberikan oleh orang tuanya. Sebab semakin ia menghitung, semakin ia menyadari bahwa tidak ada angka yang cukup untuk membayar sebuah kehidupan.

Ibu telah memberikan tubuhnya. Ayah telah memberikan tenaga dan perlindungannya. Keduanya menggendong hari-hari yang berat agar seorang anak dapat berjalan pada hari-hari yang lebih ringan. Mereka menanam sebelum anak mengenal arti tumbuh. Mereka bekerja sebelum anak mengenal arti lelah. Mereka menahan lapar sebelum anak mengenal arti kenyang.

Karena itu, dalam kehidupan masyarakat adat Pah Amarasi, ada sebuah kebiasaan yang menyimpan makna mendalam: haot-fatis, oe maputu’-ai marara’.

Ia bukan sekadar pemberian seorang anak kepada ibu dan ayah. Ia adalah satu bahasa budaya.

Bahasa yang tidak selalu diucapkan dengan banyak kata, tetapi dapat berbicara melalui apa yang diletakkan di hadapan orang tua.


Air Panas dan Air Mata

Oe maputu’ adalah air panas. Ai marara’ adalah api yang menyala atau bara yang merah.  Keduanya menghadirkan gambaran tentang sesuatu yang hidup, sesuatu yang menghangatkan, tetapi sekaligus sesuatu yang pernah melalui panasnya kehidupan.

Dalam kehidupan keluarga, air dan api bukan benda yang jauh dari pengalaman manusia. Air dipakai untuk membersihkan, memasak, menghidupkan, dan menyegarkan.  Api memberikan panas. Api memasak makanan. Api menjadi sahabat manusia ketika malam turun dan angin dingin datang dari bukit-bukit Timor.  Maka ketika kebudayaan menyebut oe maputu’-ai marara’, kita dapat membaca di dalamnya sebuah dunia simbolik: kehidupan yang telah melewati panas dan dingin, lapar dan kenyang, susah dan senang.

Orang tua telah berada di dalam semua musim itu. Mereka pernah menghadapi oe maputu’, panasnya kehidupan. Mereka pernah berhadapan dengan ai marara’, bara persoalan yang tidak selalu mudah dipadamkan. Tetapi dari panas dan bara itulah seorang anak dibesarkan.

Haot-Fatis: Anak yang Tidak Melupakan Asal

Haot-fatis bukan sekadar tindakan menyerahkan sesuatu. Ia adalah saat seorang anak berkata kepada orang tua: "Aku masih mengingat dari mana aku berasal."

Anak mungkin telah pergi jauh. Ia mungkin telah memiliki rumah sendiri, pekerjaan sendiri, keluarga sendiri, bahkan kehidupan yang jauh lebih baik daripada kehidupan yang pernah dijalani orang tuanya. Namun sejauh apa pun langkahnya pergi, ada satu tempat yang tidak boleh hilang dari ingatannya: rumah tempat ia pertama kali disebut sebagai anak. Di sanalah ia mengenal suara ibu. Di sanalah ia belajar mengenal suara ayah. Di sanalah ia pertama kali mengenal tanah, kebun, jalan setapak, sungai, pohon, rumah, dan langit. Karena itu, haot-fatis dapat dipahami sebagai sebuah gerakan kembali.

Bukan kembali untuk mengambil. Tetapi kembali untuk menghormati. Bukan kembali karena orang tua membutuhkan kekayaan anak. Tetapi karena anak menyadari bahwa ada hutang kasih yang tidak pernah selesai dibayar. 

Orang Tua Tidak Menjual Kasih. Ada sesuatu yang penting untuk dibedakan. Dalam kebudayaan yang sehat, pemberian kepada orang tua bukanlah transaksi. Orang tua tidak pernah membesarkan anak dengan perjanjian: "Kelak engkau harus membayar semuanya."

Kasih orang tua tidak memiliki kuitansi. Ibu tidak menghitung berapa kali ia bangun malam. Ayah tidak mencatat berapa kali ia berjalan jauh mencari nafkah. Mereka memberi karena anak adalah bagian dari hidup mereka. Justru karena itulah pemberian seorang anak kepada orang tua menjadi indah.

Anak tidak sedang membayar harga kasih. Ia sedang mengakui kasih. Perbedaannya sangat besar. Membayar berarti menganggap hutang telah selesai. Mengakui berarti menyadari bahwa kasih itu tetap hidup dalam diri.  Maka benda yang diserahkan mungkin akan habis. Makanan akan dimakan. Uang akan digunakan. Kain akan dipakai. Barang akan rusak. Tetapi makna penghormatan tidak ikut habis bersama benda itu. 

Dari Tangan Anak kepada Tangan Orang Tua

Bayangkan seorang anak berdiri di hadapan ibu dan ayahnya. Di tangannya ada sesuatu yang hendak diserahkan. Mungkin sederhana. Mungkin tidak mahal. Namun pada saat benda itu berpindah dari tangan anak ke tangan orang tua, sebenarnya ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang berpindah: ingatan. Ingatan tentang masa kecil. Ingatan tentang rumah. Ingatan tentang suara ibu yang memanggil. Ingatan tentang ayah yang bekerja ketika matahari belum tinggi. Ingatan tentang nasi yang dibagi meskipun persediaan sedikit. Ingatan tentang pakaian yang dijahit atau diperbaiki agar masih dapat dipakai. Ingatan tentang langkah-langkah kecil seorang anak yang dahulu belum mampu berjalan sendiri. Itulah sebabnya pemberian tersebut tidak boleh dinilai hanya berdasarkan harga.

Sebab dalam kebudayaan, nilai sebuah pemberian tidak selalu terletak pada mahalnya benda, tetapi pada penghormatan yang menyertainya. Yang diberikan sesungguhnya adalah hati. Ada orang yang mampu memberikan banyak, tetapi hatinya tidak hadir.  Ada pula orang yang hanya mampu memberikan sedikit, tetapi seluruh hatinya ikut diletakkan bersama pemberian itu. Yang kedua sering kali jauh lebih berarti. Sebab orang tua tidak terutama membutuhkan kemewahan dari anak.  

Mereka ingin mengetahui bahwa perjalanan hidup mereka tidak dilupakan. Mereka ingin mengetahui bahwa anak yang dahulu mereka gendong kini telah mampu berdiri. Dan ketika anak itu berdiri di hadapan mereka, ia tidak berdiri sebagai orang asing. Ia berdiri sebagai anak yang mengingat asalnya. Di situlah haot-fatis menemukan keindahannya.

Ia menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Menghubungkan orang tua dengan anak. Menghubungkan rumah lama dengan kehidupan baru. Menghubungkan darah dengan kasih. Dan menghubungkan manusia dengan asal-usulnya.

Sebentuk Etika untuk Anak

Dalam masyarakat modern, manusia mudah sekali bergerak jauh. Anak pergi ke kota. Pergi ke pulau lain. Pergi ke negeri lain. Membangun rumah baru. Memiliki pekerjaan baru. Memiliki lingkungan baru. Kadang-kadang, semakin jauh seseorang berjalan, semakin mudah ia lupa jalan pulang. Karena itu, kebudayaan tidak hanya mewariskan benda dan upacara. 

Kebudayaan juga mewariskan cara mengingat.

Haot-fatis adalah salah satu cara itu. Ia mengajarkan kepada anak bahwa keberhasilan tidak boleh membuatnya lupa kepada orang yang dahulu menuntunnya pada langkah pertama. Pendidikan tidak boleh membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang tuanya. Jabatan tidak boleh membuat seseorang malu terhadap rumah asalnya. Kekayaan tidak boleh membuat seseorang lupa kepada tangan yang dahulu memberikan makan ketika ia belum mampu mencari sendiri. Sebab pohon yang tinggi tetap membutuhkan akar. Dan manusia yang berhasil tetap membutuhkan ingatan tentang dari mana ia bertumbuh. 

Oe Maputu’, Ai Marara’

Mungkin di sinilah kita menemukan kebijaksanaan yang dalam dari ungkapan oe maputu’-ai marara’. Air panas dan api merah adalah gambaran tentang kehidupan yang tidak selalu dingin dan mudah. Orang tua telah melewati panasnya hari. Mereka telah mengenal bara kesulitan. Namun, mereka menjaga agar api kehidupan tidak padam. Dari api itulah makanan dimasak. Dari panas itulah tubuh dihangatkan. Dari perjuangan itulah anak bertumbuh. Maka ketika seorang anak datang membawa pemberian kepada ibu dan ayahnya, sesungguhnya ia sedang kembali kepada api yang dahulu menghangatkan hidupnya.

Ia datang bukan untuk membalas. Ia datang untuk mengatakan:  "Aku tidak lupa." Dan mungkin itulah kalimat paling sederhana yang ingin didengar orang tua dari anak-anaknya. Bukan: "Aku sudah menjadi orang besar." Bukan: "Aku sudah berhasil." Melainkan: "Aku masih mengingat kalian." 

Supaya Akar Tidak Mati. 

Sebuah masyarakat akan tetap kuat apabila anak-anaknya mengetahui jalan pulang. Jalan pulang bukan hanya jalan tanah menuju rumah tua. Jalan pulang adalah jalan batin menuju asal-usul. Di sepanjang jalan itu ada wajah ibu. Ada wajah ayah. Ada keringat. Ada doa. Ada makanan sederhana. Ada kebun. Ada rumah. Ada tanah. Ada bahasa. Ada nama keluarga. Ada adat. Ada ingatan tentang mereka yang telah lebih dahulu berjalan. Karena itu, haot-fatis bukan hanya tradisi masa lalu.

Ia dapat menjadi nasihat bagi generasi sekarang: Jangan menjadi pohon yang malu kepada akarnya. Sebab akar tidak pernah meminta untuk disebut. Ia bekerja dalam gelap. Ia memegang tanah. Ia menyerap air. Ia menopang batang. Ia membiarkan daun menikmati matahari. Begitulah orang tua. Sering kali mereka bekerja dalam diam agar anak-anak dapat berdiri dalam terang. Dan ketika suatu hari anak kembali membawa sesuatu ke hadapan mereka, mungkin yang paling berharga bukanlah benda yang berada di tangan. Yang paling berharga adalah hati yang masih mengenal jalan pulang. Itulah haot-fatis. Itulah oe maputu’-ai marara’.

Sebuah serpihan kebijaksanaan Pah Amarasi mengajarkan bahwa seorang anak boleh pergi sejauh langit membawanya, tetapi jangan pernah pergi begitu jauh sehingga lupa kepada tanah tempat ia pertama kali berdiri.Jika dikehendaki, esai ini juga bisa kita perdalam menjadi kajian etimologis dan sosiokultural: membedah 𝘩𝘢𝘰𝘵 - 𝘧𝘢𝘵𝘪𝘴, 𝘰e 𝘮𝘢𝘱𝘶𝘵𝘶’, dan 𝘢𝘪 𝘮𝘢𝘳𝘢𝘳𝘢’ terlebih dahulu, lalu baru masuk ke makna adatnya.


©Heronimus Bani~Pemulung Aksar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Natu' Pilu', metode pewarisan budaya pada masyarakat Pah Binoni Amfo'an

Musik dan Tari dalam Liturgi Ibadah

Peniti, Bawang Putih, Genoak, antara Mitos, Pengetahuan dan Kepercayaan