Postingan

Muah ate kais Mukraeb

Gambar
  Muah ate kais Mukraeb  Pengantar Judul pada tulisan ini saya kutip dari nasihat ibu atau ayah dari setiap rumah tangga di dalam masyarakat Pah Amarasi. Bila berhadapan dengan makanan di piring, selalu ada yang mengingatkan, makanlah hingga selesai, jangan sisakan di piring (muah ate kais mukraeb). Nasihat dan sekaligus peringatan sederhana. Lalu apakah ada pesan di dalamnya? Saya tangkap sepenggal pesan di dalamnya. Itulah sebabnya saya merasa perlu menulis di sini. Uraian Linguistik secara Singkat Kalimat pada judul di atas dapat diurai sebagai berikut Kalimat itu diucapkan oleh orang pertama tunggal yang ditujukan kepada orang kedua tunggal. Implisit pada kalimat itu subjek orang kedua tunggal, ho - kau - engkau - kamu. Bagaimana kita mengetahui bahwa kalimat itu ditujukan kepada orang kedua tunggal? Perhatikan kata kerjanya muah dan mukraeb. Pada kedua kata ini tersirat subjek ho orang kedua tunggal. Jadi nasihat itu ditujukan kepada orang kedua tunggal. Bagaimana jika di...

Apakah Ada Mitos di Pah Amarasi?

 Apakah Ada Mitos di Pah Amarasi? Sejarah dan ziarah bangsa-bangsa di dalamnya ada banyak suku bangsa hingga anak (sub) suku bangsa. Pada semuanya mereka menjalani kehidupan dengan mengalami perubahan-perubahan pola pikir. Perubahan pola pikir menjadi sebab mereka maju dan berkembang.  Kemajuan dan perkembangan pada komunitas sub-suku atau suku bangsa yang berawal dari hasil olah pikir pada lingkungan tempat dimana mereka berada. Mereka mengimajinasikan sesuatu hingga dapat kiranya hendak diwujudkan agar dapat dirasakan dan diraba. Namun ada di dalamnya hal yang tidak dapat diraba yang oleh karenanya mereka harus berpikir keras untuk menemukan jawaban dari apa yang tidak dapat diraba itu. Kuasa dan kekuatan di luar diri mereka sebagai sesuatu yang tak dapat diraba, walau dapat dirasakan. Misalnya angin. Angin bertiup perlahan (sepoi) yang memberi kesejukan pada satu waktu, sementara di waktu yang lain angin justru membadai hingga menghancurkan. Pada saat seperti itu olah pikir...

Kehidupan Seperti Apa di Balik Sana?

Gambar
Kehidupan Seperti Apa di Balik Sana? Dalam beberapa tulisan saya yang berhubungan dengan pengetahuan kebudayaan yang kiranya nuansanya bagai suatu aliran kepercayaan, saya beberapa kali menulis tentang upacara menguburkan jenazah dari orang yang dikasihi ketika meninggal dunia. Upacara yang khas orang Timor, khususnya di kalangan masyarakat adat Pah Amarasi, salah satu sub etnis di Timor. Upacara itu disebut Subat. Beberapa kali saya diminta menyajikan materi-materi yang khas seperti itu di kalangan anggota Presbiter dalam wilayah pelayanan GMIT Klasis Amarasi Timur. Para pendeta, penatua, diaken, dan pengajar secara berkelompok mengikuti paparan-paparan saya dalam pembagian wilayah yang disebut rayon. Suatu perkembangan yang menarik, ketika dalam diskusi-diskusi itu saya mendapatkan banyak masukan tentang roh orang mati dalam pengetahuan masyarakat lokal di bekas Swapraja Amarasi. Swapraja Amarasi itu sendiri dalam pengetahuan masyarakat adat, dikenal dengan istilah Pah Amarasi. Masya...

Mungkinkah Kosu' telah Go International?

Gambar
   Mungkinkah Kosu' telah  Go International ? Pengantar Dalam tahun-tahun belakangan ini budaya  kosu'  yang khas masyarakat adat Pah Amarasi telah menjadi budaya publik. Saya pikir dan berasumsi demikian karena rasanya dimana orang Amarasi berdiaspora, di sana bila mereka akan mengadakan hajatan sukacita, pasti akan ada tarian massal  kosu'  . Saya sebagai anggota masyarakat Pah Amarasi yang tinggal di wilayah Amarasi Selatan turut menyaksikan bahwa hampir semua hajatan sukacita khususnya pada resepsi pernikahan, akan selalu menjadi indah dan berkesan bila ada tarian massal  kosu'.  Keluarga batih dan keluarga besar hingga undangan baru merasakan indahnya pesta/resepsi pernikahan setelah  kosu'  dilangsungkan. Mereka akan pulang ke rumah masing-masing dengan kesan pertama  kosu'  dan sesudah itu akan diikuti dengan kenangan pada pasangan nikah itu dengan sejumlah acara dan ritual keagamaan yang dilewati. Mereka pun ak...

Uim Po'on

Gambar
Uim Po'on, Rumah di dalam  Po'on Bagi orang Atoni' Pah Meto' , secara keseluruhan salah satu cara bertanam yang dikenal umum yang disebut po'on atau po'an. Dua gaya yang kelihatannya berbeda, tetapi objeknya sama. Objek itu yaitu sebidang tanah yang di dalamnya ditanami tanaman umur panjang. Jenis-jenis tanaman itu selalu disebutkan berpasangan yaitu sirih-pinang ( puah-manus ) dan pisang-kelapa ( uki-noah ). Tanaman umur panjang lainnya seperti nangka, sirsak. Sementara tanaman perdagangan seperti kemiri dan pohon-pohon jati serta mahoni. Semua tanaman ini ditanam dalam satu area dimana ada aliran air, kali kering, kali berair sedikit, hingga sungai-sungai kecil. Lalu, di sana dibangunlah satu unit rumah yang disebut uim po'on atau uim po'an. Sebelum  suatu area itu menjadi  po'on/po'an, terlebih dahulu area itu dijadikan ladang. Sudah dalam pengetahuan umum bahwa ladang akan ditanami dengan jagung-padi ( pena'-maka'/ane ). Di d...

Gaya Berkabung masyarakat adat Amfo'an

Gambar
Gaya Berkabung Masyarakat Adat Amfo'an Gaya Berkabung Kaum Muda (Lajang) di Amfo'an Foto: dokpri, Roni Bani Pengantar Kemarin, Senin (8/11/21), kami, satu rombongan kecil keluarga berangkat dari desa Nekmese' Kecamatan Amarasi Selatan. Rombongan kecil ini akan menuju desa .(Oh) Oo-Aem 2 Kecamatan Amfoang Selatan. Kami akan turut bersama-sama dengan satu keluarga di sana dalam suasana dukacita. Tepatnya, mereka sedang dalam suasana berkabung berhubung meninggalnya orang tua terkasih mereka. Keluarga dan rumpun keluarga di dusun Nenu' itu berduka untuk kedua kalinya setelah dua minggu sebelumnya ada masa perkabungan di rumah yang sama. Kami memilih untuk turut serta dalam suasana duka itu karena seorang anggota keluarga kami telah dinikahi oleh seorang pemuda dari keluarga yang sedang mengalami suasana duka ini. Kami berangkat Senin pukul 21.00 WITa dan baru tiba di sana pada pukul 03.00 WITa hari berikutnya yakni, Selasa (9/11/21). Jarak tempuh tercepat 105 km melalui Po...

Modifikasi Gaya Meminang

Gambar
  Modifikasi Gaya Meminang Pengantar Dalam tahun-tahun dimana pandemi covid-19 mendera dan merambah dunia, kesehatan individu dan masyarakat menjadi yang prioritas untuk mendapat perhatian. Maka, pemerintah memulai dengan himbauan yang bermuara sebagai aturan yakni, bekerja, belajar dan beribadah dari rumah. Selanjutnya diikuti dengan 3 M, 3 T dan kini mencapai 6 M. Lantas daerah-daerah melaksanakan pembatasan-pembatasan baik skala menengah hingga mikro dengan pemberian nama zona dengan warna-warna tertentu. Zona-zona itu akan memberi ruang atau tidak memberi ruang gerak pada masyarakat. Kini dengan penentuan level 1 - 4; kota, kabupaten dan provinsi hingga kecamatan dan desa/kelurahan pun berlaku hal itu. Situasi pandemi covid-19 kiranya tidak harus menjadi penghalang pada individu dan komunitas masyarakat untuk mengurus hal-hal yang berhubungan dengan keberlangsungan hidup. Salah satu di antaranya yakni mengurus perkawinan/pernikahan. Suatu dilema terjadi pada banyak kalangan yan...