Postingan

Sedaratan Sedarah Budaya Rupiah

Gambar
Perjalanan mengurus perkawinan dimulai lagi. Semalam lalu kami mendapat kunjungan dari seorang kerabat dekat kami. Ia menyampaikan bahwa anaknya akan menikah dalam waktu dekat. Kami selaku orang tua berkewajiban mengurus bila sudah saatnya.  Kendaraan roda dua kami tumpangi untuk mencapai kota kecil terdekat di Jalan Timor Raya. Selanjutnya kami menumpang bus. Jarak tempuh 193 km dalam lebih dari 4 jam bila dihitung dari titik berangkat di kampung kami. Bus yang kami tumpangi membawa penumpang ke kota itu dalam jumlah yang tidak cukup untuk seluruh kursi yang disediakan. Maka, di perjalanan, sesekali ia akan berhenti mengambil penumpang atau menurunkan penumpang dan barang.  Di kota Kabupaten Timor Tengah Selatan, So'e, bus berhenti kurang lebih 30 menit. Suasana ini dimanfaatkan para penumpang untuk menurunkan "penumpang" dari dalam tubuh masing-masing.  Perjalanan dilanjutkan. Bus meraung-raung di banyak turunan dan tanjakan berkelok-kelok. Nyaris semua kelokan memacu a...

Menempatkan Tanda Kenangan

Gambar
 Menempatkan Tanda Kenangan Foto: Leicohn McKellar Mafefa' dari keluarga laki-laki menyerahkan tanda kenangan berupa sebilah pisau dan sehelai po'uk Pada Juni 2017, saya berada di kampung Nhulunbuy, Yirrkala wilayah Gove Armland Australia Utara. Saat itu saya bersama rombongan kecil keluarga Grimes dalam rangka suatu pengurusan perkawinan menurut hukum adat perkawinan Timor-Pah Amarasi, dan selanjutnya menurut agama yang dianut dan menurut hukum perkawinan di negara Australia. Pengurusan perkawinan yang sangat berkesan dan tak akan terlupakan oleh karena saya mendapaatkan kepercayaan sebagai juru bicara (jubir, mafefa' )  dari pihak keluarga Grimes (calon mempelai laki-laki). Persiapan menuju ke sana cukup singkat kurang lebih 6 bulan saja oleh karena kami harus membawa sejumlah perlengkapan yang khas Timor-Pah Amarasi. Di antara yang kami siapkan itu akan ditempatkan di dalam dulang-dulang ( oko'mama' ) sebagaimana umumya cara maso minta  di kota-kota Kabupaten di ...

Oko'mama sebagai Ibu

Gambar
Oko'mama' sebagai Ibu Pengantar Seorang mahasiswa jauh-jauh dari Salatiga bertandang ke Umi Nii Baki Koro'oto di desa Nekmese'. Ia telah menyampaikan sebelumnya bahwa akan berkunjung dengan niat berdiskusi. Topik diskusi tentang kebudayaan, lebih fokus pada oko'mama' ~ tempat sirih pinang. Sang mahasiswa diantar oleh seorang guru yang bertugas di salah satu unit sekolah di desa Nekmese Amarasi Selatan. Pertemuan diawali basa-basi penghangat suasana, dibarengi sikap dan tindakan yang khas, meletakkan satu unit oko'mama' di atas meja. Isinya terdiri dari pinang, sirih dan kapur. Sang mahasiswi pun bergegas mengambil pinang yang dibawanya. Ia meletakkannya di meja. Saya mengambil sebuah, membuka kulitnya, isinya dikunyah bersama campuran sirih dan kapur. Hasilnya berupa liur yang memerah. Liur itu dibuang, namun aroma khas keluar dari mulut. Biasanya terlihat wajah akan memerah darah. Sangat sering para pemangku adat melantunkan syair untuk menikmati campur...

Merenda Jejak Kecil

Gambar
 Merenda Jejak Kecil Foto: @Nelci Therik Malam tiba ketika seremoni maso minta berakhir. Para kerabat dan sahabat bergembira. Mereka bersama pasangan kekasih yang baru saja mendapatkan pengesahan perkawinan menurut hukum adat perkawinan. Pasangan kekasih ini telah sah sebagai suami-isteri. Sahnya perkawinan ini dimeriahkan dengan lagu dan tari yang khas. Para muda dengan kekhasannya, demikian kaum tua tak ketinggalan. Zaman terus menggulirkan pendekatan yang dibawa masuk dalam pentas-pentas kehidupan. Setibanya di rumah saya merefleksikan suasana malam maso minta i tu dengan bait pusi ini. Menari-nari jemari tanganku Merona merah penonton pentas Manakala tatapan mata berbinar-binar Diselipi bidik di lesung pipi Sesaat berdesir darah Badan berasa dipeluk kehangatan Hendak mencari ruang merdeka Pentas masih membeber musik Jemari tangan terus menari Koro'oto, 14 Mei 2022 Seharian pada 14 Mei 2022, kesibukan para kerabat demi suksesnya perhelatan akbar keluarga-keluarga yang mendukung ...

Dua nada beda Bungkusan

Gambar
Dua nada beda Bungkusan Foto: @Elfis Bani Malam itu hujan mengguyur permukaan bumi walau tidak sebanyak pada musim hujan. Intensitasnya cukup membasahi saja. Lalu makin malam saya masih duduk, membaca, lalu menulis puisi ini.  Gelap membungkus mayapada Saat butir-butir cairan langit jatuh bertebaran Tenang dan teduhnya rasa Bagai irama pengiring senja dimainkan Malam Kau tiada dapat menolak hujan Dan gemintang berkedip pun Tiada dapat menampik mendung Rembulan tersenyum saja di balik gumpalan awan Malam Kau tahu hari ini Kau akan terus merayapi mayapada Hingga fajar merekah Dan mentari pagi memancar Koro'oto, 14 Mei 2022 Saat hujan turun Pada 15 Mei 2022, upacara liturgis dalam rangka peresmian perkawinan menurut agama Kristen berlangsung untuk satu pasangan kekasih. Saya turut sekadar memberi andil pada pasangan kekasih ini  ketika menjadi Juru Bicara dalam seremoni maso minta.  Malam harinya, resepsi pun dilangsungkan dengan semarak. Di sana ada varian acara, termasuk s...

Menghalau Kecemasan

Gambar
Menghalau Kecemasan Foto: dokpri, Roni Bani Pada 13 Mei 2022, kami menghadiri acara seremoni maso minta di desa Manulai 1, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang. Bagian dari cerita ini dapat dibaca pada https://uminiibaki.blogspot.com/2022/05/tempat-sirih-pinang-kami-di-manulai-1.html. Suatu hal yang biasa saja, namun dikemas dengan gaya entertaint, sehingga acara ini kemudian menjadi menarik. Contoh frasa yang saya gunakan pada saat pengantin sudah tiba di tempat yang disediakan untuk keduanya. Manisnya madu tiadalah tiba-tiba. Lebah manakah yang akan meracuni dan menghancurkan sang bunga? Justru ia datang, merayu, mencumbu, meminta, ... barulah kita menikmati manisnya madu.   Frasa seperti itu dan sejumlah frasa lainnya telah menghias acara maso minta itu. Kerabat, sahabat, kenalan yang dikenal, berkenalan, terkenal dan memperkenalkan diri, semuanya tersenyum dan tertawa. Beberapa di antaranya sempat bertepuk tangan. Suatu acara maso minta yang biasa saja, namun kemasan p...

Awalnya Bisik-bisik Akhirnya Bising-bising

Gambar
 Awalnya Bisik-bisik Akhirnya Bising-bising Foto: Louis Bani Pdt. (emr) Semuel V. Nitti, M.Th, berkenan menghadiri seremoni maso minta sepasang kekasih di desa Manulai 1, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, NTT. Ia seorang mantan anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur, dan juga pernah menjadi bagian penting dari ziarah Majelis Sinode Gereja Masehi Injili di Timor. Kehadirannya sebagai anggota rombongan dari keluarga Bani-Ratu Edo yang akan melaksanakan seremoni maso minta ini. Sang Pendeta Emiritus ini diminta secara khusus oleh rekannya yang juga seorang Pendeta Emiritus. Ia menyampaikan nasihat yang sangat bernas walau terasa bagai guyon belaka. Ia memulai dengan menyapa para pemangku di desa dan di dalam institusi keagamaan dalam desa Manulai 1. Selanjutnya bagai mengabsensi para pemangku, ia menyebut beberapa orang yang sedang mengemban tugas sebagai anggota presibiter, baik dalam fungsi sebagai pendeta, penatua atau yang pernah menjadi penatua, katanya, "Saya agak gu...